Monday, September 9, 2019

TAKWA DALAM AL-QUR'AN

TAKWA DALAM AL-QUR’AN
(PENAFSIRAN AL-BAQARAH AYAT 2-4)
Oleh :
Ahmad Minannurohman 

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ {٢} الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ {٣} وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ {٤}

Artinya : Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”(2). “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”(3). “dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”(4).




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Semua manusia diciptakan oleh Allah dengan asal dan unsur yang sama. Mereka berasal sumber yang sama yakni Adam dan Hawa. Mereka juga berasal dari unsur yang sama yakni tanah. Kemudian mengalami proses yang sama dari janin hingga berwujud bayi. Hingga pada akhirnya semua manusia pun sama, semuanya mengalami kematian dan berakhir di tempat yang sama yaitu tanah, Namun ada hal yang membedakan dari setiap manusia, yaitu kadar ketakwaanya. 
Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah untuk manusia telah memberikan berbagai petunjuk bagi manusia dalam menjalani kehidupanya. Termasuk yang berkaitan dengan ketakwaan. Ketika al-Qur’an memberikan pernyataan mengenai suatu hal maka al-Qur’an otomatis juga memberikan dasar-dasar/sebab-sebab dari pernyataan tersebut. Seperti halnya al-Qur’an mengatakan bahwa yang membedakan manusia adalah ketakwaan maka secara otomatis al-Qur’an juga memberikan petunjuk untuk mencapai ketakwaan tersebut.
B.     Perumusan Masalah
1.      Bagaimana Pengertian Taqwa ?
2.      Bagaimana Ayat-ayat tentang Taqwa ?
3.      Bagaimana Penafsiran Ayat-ayat tentang Taqwa ?
4.      Bagaimana Analisis Penulis tentang Taqwa ?
C.    Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui Pengertian Taqwa.
2.      Mengetahui Ayat-ayat tentang Taqwa
3.      Mengetahui Penafsiran Ayat-ayat tentang Taqwa.
4.      Mengetahui Analisis Penulis tentang Taqwa.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Taqwa
Secara etimologis, terma takwa dan yang seakarnya tertera dan terulang sebanyak 258 kali dalam Alquran, berasal dari akar waqā-yaqī infintif (mashdar)-nya adalah wiqāyah yang berarti memelihara, menjaga, melindungi, hati-hati, menjahui sesuatu, dan takut adzab. Takwa dapat juga berarti al-khasyyah dan al khaufyang berarti takut kepada adzab Allah, yang menimbulkan satu konsekuensi untuk melaksanakan semua perintah Allah dan menjahui larangan-Nya.[1]
Takwa secara terminologis memiliki peristilahan yang beragam, hal ini terbukti dari banyaknya sumbangsih (kontribusi) para ulama untuk menelusuri pengertian terminologis takwa. Sayyid Qutb mendefinisikan taqwa adalah perasaan di dalam hati, kondisi dan nurani, sumber arah perjalanan dan amalan, penyatu perasaan batin dan tindakan lahir, yang menghubungkan manusia dengan Allah baik secara sembunyi maupun terang-terangan, ketika sendirian maupun di hadapan banyak orang.[2] Nurcholis Madjid berpendapat orang bertakwa adalah mempercayai hal-hal yang gaib, mendirikan shalat, dan mengeluarkan atau memberikan sebagian hartanya.[3]

B.     Ayat-ayat tentang Taqwa
1.      Surah al-Baqarah : 2
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.”
2.      Surah al-Baqarah : 3
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”
3.      Surah al-Baqarah : 4
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
“dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”

C.    Penafsiran Ayat tentang Taqwa
1.      Surah al-Baqarah : 2
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Qatadah mengartikan “al-muttaqien” adalah mereka yang disifati Allah dalam firman-Nya : (al-Baqarah ayat 3) “Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib serta mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka.”[4] Dalam suatu riwayat, Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab mengenai takwa, maka Ubay bertanya kembali kepadanya: “Tidak kah engaku pernah melewati jalan yang berduri ?” Umar menjawab: “Ya. “Ia bertanya lagi: “Lalu apa yang engkau kerjakan ?” Ia menjawab: “Aku berusaha keras dan bekerja sungguh-sungguh untuk menghindarinya.” Kemudian ia menuturkan: “Yang demikian itu adalah takwa.”[5]
Kemudian pengertian tersebut disimpulkan oleh Ibnu Mu’taz melalui syairnya yang berbunyi:
Tinggalkanlah dosa kecil maupun besar dan yang demikian itu adalah takwa. Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah berduri, berhati-hati terhadap apa yang dilihatnya. Dan janganlah engkau meremehkan suatu hal yang kecil, seseungguhnya gunung itu berasal dari batu kerikil.
Sayyid Quthub dalam tafsirnya mengartikan takwa dalam ayat tersebut sebagai sensivitas dalam hati, kepekaan dalam perasaan, responsif, selalu takut, senantiasa berhati-hati dan selalu menjaga diri dari duri-duri jalan, jalan kehidupan, yang penuh dengan duri kesenangan dan syahwat, duri-duri keinginan dan ambisi, duri-duri kekhawatira dan ketakutan, duri-duri harapan palsu terhadap orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi harapan, dan ketakutan palsu kepada orang yang tidak memiliki kekuasaan untuk memberi manfaat dan mudharat, dan berpuluh-puluh macam duri lainya.[6]
Quraish Shihab dalam tafsirnya mengartikan takwa dalam ayat tersebut bearti menghindar. Yang mana dalam ayat tersebut mengandung tiga tingkat penghindaran. Pertama, menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah. Kedua, berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, dan yang tertinggi, adalah menghindar dari segala aktivitas yang menjauhkan pikiran dari Allah Swt.[7]
Lebih lanjut, Quraish Shihab menjelaskan takwa bukanlah satu tingkat dari ketaatan kepada Allah, tetapi ia adalah penamaan bagi setiap orang yang beriman dan mengamalkan amal saleh. Seorang yang mencapai puncaknya pun, bahkan yang belum luput sama skali dari dosa, juga dapat dinamai orang bertakwa, walaupun tingkat ketakwaanya belum mencapai puncak. Takwa adalah nama yang mencakup semua amal-amal kebajikan. Siapa yang mengerjakan sebagian darinya, ia telah menyandang ketakwaan.[8]
2.      Surah Al-Baqarah : 3
Dalam mengartikan iman pada ayat ini , Ibnu Katsir sependapat dengan ijma’ Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Ubaidah, dan lain-lainya, bahwa iman adalah pembenaran dengan ucapan dan amal perbuatan, bertambah dan berkurang. Sebagian mereka mengatakan, beriman kepada yang ghaib sama seperti beriman kepada yang nyata, dan bukan seperti yang difirmankan Allah mengenai orang-orang munafik:
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
“Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: Kami telah beriman. Dan jika mereka kembali kepada syaithan-syaithan mereka, mereka mengatakan: Sesungguhnnya kami sependririan dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok.” (Q.S. Al-Baqarah: 14).
Kemudian mengenai kata بِالْغَيْبِ, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata tersebut berkedudukan sebagai haal (menerangkan keadaan), artinya pada saat keadaan mereka ghaib dari penglihatan manusia. Hal ghaib itu adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, surge dan neraka, serta pertemuan dengan Allah, dan juga beriman akan adanya kehidupan setelah kematian ini, serta adanya kebangkitan.[9]
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Muhairiz, ia menceritakan, aku pernah mengatakan kepada Abu Jam’ah: Beritahukan kepada kami sebuah hadis yang engkau dengar dari Rasulullah Saw. Ia pun berkata: “Baiklah, aku bertanya: Ya Rasulullah, adakah seseorang yang lebih baik dari kami ? sedangkan kami telah masuk Islam bersamamu dan berjihad bersamamu pula ? Beliau menjawab:
“Ya ada. Yaitu suatu kaum setelah kalian, mereka beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku.”
Quraish Shihab menjelaskan yang dimaksud hal gaib dalam ayat tersebut adalah gaib yang diinformasikan oleh al-Qur’an dan Sunnah. Selanjutnya, dari kedua sumber ajaran Islam itu diketahui bahwa ada yang gaib mutlak (yang tidak dapat terungkap sama sekali), dan juga ada yang gaib relatif. Gaib mutlak adalah ketika hal tersebut tidak dapat kita ketahui hakikatnya, tidak dapat dilihat atau diraba dan ia diinformasikan oleh al-Qur’an dan Sunnah. Gaib inilah yang menjadi objek iman. Maka puncaknya adalah percaya kepada wujud dan keesaan Allah serta informasi-informasi darinya. Jadi sifat pertama orang bertakwa adalah percaya kepada Allah.[10]
وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut yakni senantiasa mengerjakan dan menyempurnakan sholat dan menginfakkan sebagian harta kepada orang-orang tertentu. Lebih lanjut, Ibnu Katsir berpendapat, sering kali Allah memersndingkan antara shalat dan infaq (zakat). Shalat merupakan hak Allah sekaligus sebagai bentuk ibadah kepada-Nya. Sedangkan infaq merupakan salah satu bentuk perbuatan baik kepada sesama makhluk dengan memberikan manfaat kepada mereka. Dan yang paling berhak mendapatkanya adalah keluarga, kaum kerabat, serta orang-orang terdekat.[11]
Sayyid Quthub mengartikan infaq pada ayat tersebut adalah mencakup zakat dan sedekah, dan segala sesuatu yang dinafkahkan untuk kebaikan. Infaq telah disyari’atkan sebelum disyar’iatkanya zakat, karena infaq merupakan pokok yang menyeluruh, yang dikhususkan oleh nash-nash zakat namun tidak menghabiskan semuanya.[12] Diriwayatkan dari Fatimah binti Qais, Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya pada harta itu terdapat kewajiban selain zakat.” (H.R. Tirmidzi)
Quraish Shihab menjelaskan dalam ayat ini terkandung sifat kedua dan ketiga orang yang bertakwa. Yakni mereka yang melaksanakan shalat secara benar dan berkesinambungan dan yang menafkahkan (mengeluarkan apa yang dimiliki dengan tulus setiap saat dan secara berkesinambungan yang wajib atau sunnah) untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan siapapun yang membutuhkan. Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa yang bertakwa hendaknya bekerja dan berkarya sebaik mungkin sehingga memperoleh hasil yang melebihi kebutuhan jangka pendek dan jangka panjangnya serta dapat membantu orang lain.[13]

3.      Surah Al-Baqarah : 4
Dalam ayat ini, Ibnu Abbas mengatakan: Artinya mereka membenarkan apa yang engkau (Muhammad) bawa dari Allah dan apa yang dibawa oleh para rasul sebelum dirimu. Mereka sama sekali tidak membedakan antara para rasul tersebut serta tidak ingkar terhadap apa yang mereka bawa dari Rabb mereka. “akhirot” yakni mereka yakin akan adanya hari kebangkitan, kiamat, surga, neraka, perhitungan, dan timbangan. Disebut akhirat karena ia ada setelah dunia.[14]
Sayyid Quthub berpendapat ayat ini berisikan mengenai nilai sifat, yakni adanya perasaan tentang kesatuan manusia, kesatuan agamanya, kesatuan rasulnya, dan keesaan Yang Disembah. Nilai ialah kebersihan roh dari fanatisme yang tercela, fanatisme yang menentang agama dan orang-orang yang beriman kepada agama yang benar. Wujudnya nilai itu adalahh perasaan tenang dan tentram terhadap pemeliharaan dan perlindungan Allah.[15]
Quraish Shihab menjelaskan ayat ini berisikan sifat orang yang bertakwa sepanjang saat juga percaya terhadap al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Zabur, Injil) serta sangat meyakini akan adanya kehidupan akhirat seperti adanya perhitungan, surga, neraka dan sebagainya. Kata “yu’minun” dipahami dari penggunaan bentuk kata kerja mudhari yakni kata kerja masa kini dan yang akan datang. Ayat ini mendahulukan objek keyakinan (akhirat) sebelum kata kerjanya untuk mengisyaratkan betapa kukuh dan besarnya perhatian mereka tentang akhirat, bahkan keyakinan itu telah mewarnai segala aktivitasnya.  Visi yang mereka miliki adalah visi yang jauh tidak terbatas, bukan terbatas pada “di sini” dan “sekarang.”[16]
D.    Analisis Penulis
Dari penafsiran ayat-ayat takwa tersebut, maka dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai takwa:
1.      Takwa adalah sebuah wujud pengendalian diri untuk menghindari perbuatan yang dilarang oleh Allah dengan mentaati segala perintahnya.
2.      Ciri-ciri orang yang bertakwa bisa ditemukan pada ayat ketiga dan keempat, yaitu mereka yang beriman pada hal yang ghaib, yang mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rizki yang telah diberikan, mereka yang beriman pada kitab-kitab yang telah diturunkan dan mereka yang percaya akan adanya kehidupan akhirat.
Pertama, mereka yang beriman kepada yang ghaib. Inti dari hal yang ghaib dari ayat tersebut adalah Allah. Sementara iman kepada hal yang ghaib adalah percaya serta meyakini suatu hal meski hal tersebut tidak Nampak oleh panca indera. Orang yang bertakwa adalah mereka yang mengimani akan adanya Allah. Konsekuensinya adalah ketika mereka beriman kepada Allah, maka segala sesuatu yang datang dari-Nya juga diimani. Allah menciptakan malaikat-malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, serta hari akhir, maka orang yang bertakwa akan secara otomatis juga mengimani hal-hal tersebut. Begitu pula seterusnya, apapun yang datang dari rasul, malaikat, hari hari setelah hari akhir otomatis ikut diimani pula.
Kedua, mereka yang menyempurnakan shalat. Orang yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa mengerjakan dan menyempurnakan sholat. Kalimat dalam ayat tersebut mengandung dua kata kerja, yakni mengerjakan dan menyempurnakan. Maka untuk menjadi orang yang bertakwa tidak cukup jika hanya menggunakan satu kata kerja di antara dua kata tersebut. Orang yang hanya mengerjakan sholat tanpa ada usaha untuk menyempurnakan sholatnya maka tidak bisa dikategorikan sebagai orang yang bertakwa.
Ketiga, mereka yang menafkahkan rizki yang telah diberikan. Ciri yang ketiga ini berbeda dengan ciri orang bertakwa sebelumnya, yang mana ciri pertama dan kedua lebih berhablu minallah, sementara ciri ketiga ini lebih cenderung ke hablu minannas. Orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan sebagian rizki yang telah diberikan kepadanya. Subjek dari kalimat ini adalah orang yang bertakwa. Predikat dari kalimat ini adalah menafkahkan, dalam kata menafkahkan ini mengandung pengertian yang luas tetapi mempunyai satu persamaan yakni memberi. Maka dapat dipahami, menafkahkan dalam ayat ini meliputi segala hal yang bersifat memberi, seperti halnya, zakat, infaq, shadaqah dan lain sebagainya. Semetara objek yang menjadi pemberian ini adalah mereka yang membutuhkan.
Keempat, mereka yang beriman pada kitab-kitab yang telah diturunkan. Kitab-kitab yang dimaksud adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an. Orang yang betakwa tidak akan memperselisihkan kebenaran kitab satu dengan kitab yang lainya, karena pada dasarnya semua kitab itu berasal dari Allah. Kalau-pun ternyata ada perbedaan dalam masing masing kitab, hal itu terjadi karena ulah tangan manusia yang merubah isinya.
Kelima, mereka yang percaya akan adanya kehidupan akhirat. Orang yang bertakwa akan percaya akan adanya kehidupan setelah dunia, yakni kehidupan akhirat. Tak berhenti di situ saja, segala sesuatu yang berkaitan dengan akhirat maka orang yang bertakwa akan percaya adanya. Semisal adanya hari kebangkitan, hari pertimbangan, hari perhitungan, surge dan neraka.
3.      Konsep Takwa
Setelah mendapatkan poin-poin atas penafsiran ayat takwa tersebut, dapat diambil sebuah konsep takwa yang dimaksudkan dalam ayat tersebut . Yaitu, takwa tidak hanya mencakup hubungan manusia dengan Penciptanya tetapi hubungan manusia dengan manusia. Terbukti dengan ciri-ciri yang ada dalam ayat tersebut yang secara jelas mengandur unsur social. Ditambah lagi dapat diketahui dari seringnya Allah menyandingkan hablu minallah dengan hablu minannas dalam firman-Nya. Kerap kali kata aqimus sholat dilanjutkan dengan wa atuz zakat ditemukan dalam firman-firman-Nya. Jadi penulis berpendapat, orang yang bertakwa tidak hanya yang bagus hablu min Allah nya saja tetapi mereka yang seimbang dalam hal hablu min Allah dan hablu min nas nya.

























Text Box: MU’AMALAH                                                                                               










BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
 Taqwa berimplikasi pada seluruh kehidupan Manusia, Taqwa akan menuntun manusia ke jalan yang benar, kata taqwa bukan hanya menghindari adzab Allah sebagai antisipasi menolak kemudharatan, akan tetapi memiliki semangat keberagamaan (religious spirit) yakni dengan memperbaiki hubungan vertical (dengan Allah) dan juga horizontal (dengan Manusia).
Ciri-ciri orang yang bertakwa adalah; Pertama, mereka yang beriman kepada hal yang ghaib, yang dalam hal ini adalah Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Rasul, Iman kepada Kitab-kitab dan Iman kepada Hari Akhir. Kedua, mereka yang senantiasa mengerjakan sholat dan menyempurnakanya. Ketiga, mereka yang menafkahkan sebagian rizki yang diberikan kepadanya, segala sesuatu yang bersifat memberi (zakat, shadaqah, infaq dll.), Keempat, mereka yang percaya dengan adanya kehidupan akhirat setelah kehidupan dunia, meliputi segala hal yang berkaitan dengan akhirat (surga, neraka, hisab, mizan dll.).
B.     Saran
Penulis menyadari penelitian ini masih banyak kekurangan atau bahkan terdapat kekeliruan. Maka dari itu penulis sangat mengaharapkan masukan yang dapat dijadikan sebuah ilmu untuk lebih baik dalam memahami penafsiran al-Qur;an.







DAFTAR PUSTAKA
Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq al-Sheikh, Abdullah, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2003.
Qutb, Sayyid, Terjemah Tafsir fi Zhilalil Qur’an Juz 1.pdf
Munawar-Rachman, Budhy Ensiklopedi Nurcholish Madjid; Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Edisi Digital Jilid 2, Jakarta: Democracy Project, 2012.
Shaleh, M. Ashaf, Takwa Makna dan Hikmahnya dalam Alquran, PT.
Gelora Aksara Pratama
Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, Jakarta: Lentera Hati, 2002.


[1] M. Ashaf Shaleh, Takwa Makna dan Hikmahnya dalam Alquran (PT.Gelora Aksara Pratama), h. 1
[2] Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an Juz 1, (), h. 49.
[3] Budhy Munawar-Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid; Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Edisi Digital Jilid 2, (Jakarta: Democracy Project, 2012), h. 1060.
[4] Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2003), h. 45.
[5] Ibid., h. 46.
[6] Sayyid Qutb, Terjemah Tafsir fi Zhilalil Qur’an Juz 1.pdf, h. 46-47.
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 108-109.
[8] Ibid,, h. 109-110.
[9] Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2003), h. 49.
[10] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 111.
[11] Ibid., h. 50.
[12] Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an Juz 1.pdf, h. 48-49.
[13] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 113.
[14] Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1, (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2003), h. 52.
[15] Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an Juz 1, (), h. 49.
[16] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 113.

No comments:

Post a Comment