TAKWA DALAM AL-QUR’AN
(PENAFSIRAN AL-BAQARAH AYAT 2-4)
Oleh :
Ahmad Minannurohman
ذَٰلِكَ
الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ {٢}
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا
رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ {٣} وَالَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ
هُمْ يُوقِنُونَ {٤}
Artinya : “Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertaqwa.”(2). “(yaitu)
mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan
sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”(3). “dan mereka
yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan
Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya
(kehidupan) akhirat.”(4).
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Semua manusia
diciptakan oleh Allah dengan asal dan unsur yang sama. Mereka berasal sumber
yang sama yakni Adam dan Hawa. Mereka juga berasal dari unsur yang sama yakni
tanah. Kemudian mengalami proses yang sama dari janin hingga berwujud bayi.
Hingga pada akhirnya semua manusia pun sama, semuanya mengalami kematian dan
berakhir di tempat yang sama yaitu tanah, Namun ada hal yang membedakan dari
setiap manusia, yaitu kadar ketakwaanya.
Al-Qur’an yang
diturunkan oleh Allah untuk manusia telah memberikan berbagai petunjuk bagi
manusia dalam menjalani kehidupanya. Termasuk yang berkaitan dengan ketakwaan.
Ketika al-Qur’an memberikan pernyataan mengenai suatu hal maka al-Qur’an
otomatis juga memberikan dasar-dasar/sebab-sebab dari pernyataan tersebut.
Seperti halnya al-Qur’an mengatakan bahwa yang membedakan manusia adalah
ketakwaan maka secara otomatis al-Qur’an juga memberikan petunjuk untuk
mencapai ketakwaan tersebut.
B.
Perumusan Masalah
1.
Bagaimana
Pengertian Taqwa ?
2.
Bagaimana
Ayat-ayat tentang Taqwa ?
3.
Bagaimana
Penafsiran Ayat-ayat tentang Taqwa ?
4.
Bagaimana
Analisis Penulis tentang Taqwa ?
C.
Tujuan Penelitian
1.
Mengetahui
Pengertian Taqwa.
2.
Mengetahui
Ayat-ayat tentang Taqwa
3.
Mengetahui
Penafsiran Ayat-ayat tentang Taqwa.
4.
Mengetahui
Analisis Penulis tentang Taqwa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Taqwa
Secara
etimologis, terma takwa dan yang seakarnya tertera dan terulang sebanyak 258
kali dalam Alquran, berasal dari akar waqā-yaqī infintif (mashdar)-nya
adalah wiqāyah yang berarti memelihara, menjaga, melindungi, hati-hati,
menjahui sesuatu, dan takut adzab. Takwa dapat juga berarti al-khasyyah dan
al khaufyang berarti takut kepada adzab Allah, yang menimbulkan
satu konsekuensi untuk melaksanakan semua perintah Allah dan menjahui
larangan-Nya.[1]
Takwa
secara terminologis memiliki peristilahan yang beragam, hal ini terbukti dari
banyaknya sumbangsih (kontribusi) para ulama untuk menelusuri pengertian
terminologis takwa. Sayyid Qutb mendefinisikan taqwa adalah perasaan di dalam
hati, kondisi dan nurani, sumber arah perjalanan dan amalan, penyatu perasaan
batin dan tindakan lahir, yang menghubungkan manusia dengan Allah baik secara
sembunyi maupun terang-terangan, ketika sendirian maupun di hadapan banyak
orang.[2]
Nurcholis Madjid berpendapat orang bertakwa adalah
mempercayai hal-hal yang gaib, mendirikan shalat, dan mengeluarkan atau
memberikan sebagian hartanya.[3]
B.
Ayat-ayat tentang Taqwa
1.
Surah
al-Baqarah : 2
ذَٰلِكَ
الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertaqwa.”
2.
Surah
al-Baqarah : 3
الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ
يُنْفِقُونَ
“(yaitu) mereka
yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan
sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”
3.
Surah
al-Baqarah : 4
وَالَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ
هُمْ يُوقِنُونَ
“dan mereka
yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan
Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya
(kehidupan) akhirat.”
C.
Penafsiran Ayat tentang Taqwa
1.
Surah al-Baqarah : 2
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Qatadah mengartikan “al-muttaqien”
adalah mereka yang disifati Allah dalam firman-Nya : (al-Baqarah ayat 3) “Yaitu
orang-orang yang beriman kepada yang ghaib serta mendirikan shalat dan
menafkahkan sebagian rizki yang kami anugerahkan kepada mereka.”[4]
Dalam suatu riwayat, Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab
mengenai takwa, maka Ubay bertanya kembali kepadanya: “Tidak kah engaku pernah
melewati jalan yang berduri ?” Umar menjawab: “Ya. “Ia bertanya lagi: “Lalu apa
yang engkau kerjakan ?” Ia menjawab: “Aku berusaha keras dan bekerja
sungguh-sungguh untuk menghindarinya.” Kemudian ia menuturkan: “Yang demikian
itu adalah takwa.”[5]
Kemudian
pengertian tersebut disimpulkan oleh Ibnu Mu’taz melalui syairnya yang
berbunyi:
Tinggalkanlah dosa kecil maupun besar dan yang demikian itu adalah
takwa. Jadilah seperti orang yang berjalan di atas tanah berduri, berhati-hati
terhadap apa yang dilihatnya. Dan janganlah engkau meremehkan suatu hal yang
kecil, seseungguhnya gunung itu berasal dari batu kerikil.
Sayyid Quthub dalam tafsirnya mengartikan takwa dalam ayat tersebut
sebagai sensivitas dalam hati, kepekaan dalam perasaan, responsif, selalu
takut, senantiasa berhati-hati dan selalu menjaga diri dari duri-duri jalan,
jalan kehidupan, yang penuh dengan duri kesenangan dan syahwat, duri-duri
keinginan dan ambisi, duri-duri kekhawatira dan ketakutan, duri-duri harapan
palsu terhadap orang-orang yang tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi
harapan, dan ketakutan palsu kepada orang yang tidak memiliki kekuasaan untuk
memberi manfaat dan mudharat, dan berpuluh-puluh macam duri lainya.[6]
Quraish Shihab dalam tafsirnya mengartikan takwa dalam ayat
tersebut bearti menghindar. Yang mana dalam ayat tersebut mengandung tiga
tingkat penghindaran. Pertama, menghindar dari kekufuran dengan jalan
beriman kepada Allah. Kedua, berupaya melaksanakan perintah Allah
sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, dan
yang tertinggi, adalah menghindar dari segala aktivitas yang menjauhkan pikiran
dari Allah Swt.[7]
Lebih lanjut, Quraish Shihab menjelaskan takwa bukanlah satu
tingkat dari ketaatan kepada Allah, tetapi ia adalah penamaan bagi setiap orang
yang beriman dan mengamalkan amal saleh. Seorang yang mencapai puncaknya pun, bahkan
yang belum luput sama skali dari dosa, juga dapat dinamai orang bertakwa,
walaupun tingkat ketakwaanya belum mencapai puncak. Takwa adalah nama yang
mencakup semua amal-amal kebajikan. Siapa yang mengerjakan sebagian darinya, ia
telah menyandang ketakwaan.[8]
2.
Surah Al-Baqarah : 3
Dalam
mengartikan iman pada ayat ini , Ibnu Katsir sependapat dengan ijma’ Imam
Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Ubaidah, dan lain-lainya, bahwa iman adalah
pembenaran dengan ucapan dan amal perbuatan, bertambah dan berkurang. Sebagian
mereka mengatakan, beriman kepada yang ghaib sama seperti beriman kepada yang
nyata, dan bukan seperti yang difirmankan Allah mengenai orang-orang munafik:
وَإِذَا
لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا
إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
“Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka
mengatakan: Kami telah beriman. Dan jika mereka kembali kepada
syaithan-syaithan mereka, mereka mengatakan: Sesungguhnnya kami sependririan
dengan kalian, kami hanyalah berolok-olok.”
(Q.S. Al-Baqarah: 14).
Kemudian
mengenai kata “بِالْغَيْبِ”,
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata tersebut berkedudukan sebagai haal
(menerangkan keadaan), artinya pada saat keadaan mereka ghaib dari penglihatan
manusia. Hal ghaib itu adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, surge dan neraka, serta pertemuan
dengan Allah, dan juga beriman akan adanya kehidupan setelah kematian ini, serta
adanya kebangkitan.[9]
Imam
Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Muhairiz, ia menceritakan, aku pernah mengatakan
kepada Abu Jam’ah: Beritahukan kepada kami sebuah hadis yang engkau dengar dari
Rasulullah Saw. Ia pun berkata: “Baiklah, aku bertanya: Ya Rasulullah, adakah
seseorang yang lebih baik dari kami ? sedangkan kami telah masuk Islam
bersamamu dan berjihad bersamamu pula ? Beliau menjawab:
“Ya ada. Yaitu suatu kaum setelah kalian, mereka beriman kepadaku
padahal mereka tidak melihatku.”
Quraish Shihab menjelaskan yang dimaksud hal gaib dalam ayat
tersebut adalah gaib yang diinformasikan oleh al-Qur’an dan Sunnah.
Selanjutnya, dari kedua sumber ajaran Islam itu diketahui bahwa ada yang gaib
mutlak (yang tidak dapat terungkap sama sekali), dan juga ada yang gaib
relatif. Gaib mutlak adalah ketika hal tersebut tidak dapat kita ketahui
hakikatnya, tidak dapat dilihat atau diraba dan ia diinformasikan oleh
al-Qur’an dan Sunnah. Gaib inilah yang menjadi objek iman. Maka puncaknya
adalah percaya kepada wujud dan keesaan Allah serta informasi-informasi
darinya. Jadi sifat pertama orang bertakwa adalah percaya kepada Allah.[10]
وَيُقِيمُونَ
الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Ibnu Katsir menjelaskan ayat tersebut yakni senantiasa mengerjakan
dan menyempurnakan sholat dan menginfakkan sebagian harta kepada orang-orang
tertentu. Lebih lanjut, Ibnu Katsir berpendapat, sering kali Allah
memersndingkan antara shalat dan infaq (zakat). Shalat merupakan hak
Allah sekaligus sebagai bentuk ibadah kepada-Nya. Sedangkan infaq merupakan
salah satu bentuk perbuatan baik kepada sesama makhluk dengan memberikan
manfaat kepada mereka. Dan yang paling berhak mendapatkanya adalah keluarga,
kaum kerabat, serta orang-orang terdekat.[11]
Sayyid Quthub mengartikan infaq pada ayat tersebut adalah mencakup
zakat dan sedekah, dan segala sesuatu yang dinafkahkan untuk kebaikan. Infaq
telah disyari’atkan sebelum disyar’iatkanya zakat, karena infaq merupakan pokok
yang menyeluruh, yang dikhususkan oleh nash-nash zakat namun tidak menghabiskan
semuanya.[12]
Diriwayatkan dari Fatimah binti Qais, Rasulullah Saw bersabda:
“Sesungguhnya pada harta itu terdapat kewajiban selain zakat.”
(H.R. Tirmidzi)
Quraish Shihab menjelaskan dalam ayat ini terkandung sifat kedua
dan ketiga orang yang bertakwa. Yakni mereka yang melaksanakan shalat secara
benar dan berkesinambungan dan yang menafkahkan (mengeluarkan apa yang dimiliki
dengan tulus setiap saat dan secara berkesinambungan yang wajib atau sunnah)
untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan siapapun yang membutuhkan. Ayat ini
juga mengisyaratkan bahwa yang bertakwa hendaknya bekerja dan berkarya sebaik
mungkin sehingga memperoleh hasil yang melebihi kebutuhan jangka pendek dan jangka
panjangnya serta dapat membantu orang lain.[13]
3.
Surah Al-Baqarah : 4
Dalam
ayat ini, Ibnu Abbas mengatakan: Artinya mereka membenarkan apa yang engkau
(Muhammad) bawa dari Allah dan apa yang dibawa oleh para rasul sebelum dirimu.
Mereka sama sekali tidak membedakan antara para rasul tersebut serta tidak
ingkar terhadap apa yang mereka bawa dari Rabb mereka. “akhirot” yakni mereka
yakin akan adanya hari kebangkitan, kiamat, surga, neraka, perhitungan, dan
timbangan. Disebut akhirat karena ia ada setelah dunia.[14]
Sayyid
Quthub berpendapat ayat ini berisikan mengenai nilai sifat, yakni adanya
perasaan tentang kesatuan manusia, kesatuan agamanya, kesatuan rasulnya, dan
keesaan Yang Disembah. Nilai ialah kebersihan roh dari fanatisme yang tercela,
fanatisme yang menentang agama dan orang-orang yang beriman kepada agama yang
benar. Wujudnya nilai itu adalahh perasaan tenang dan tentram terhadap
pemeliharaan dan perlindungan Allah.[15]
Quraish
Shihab menjelaskan ayat ini berisikan sifat orang yang bertakwa sepanjang saat
juga percaya terhadap al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Zabur,
Injil) serta sangat meyakini akan adanya kehidupan akhirat seperti adanya
perhitungan, surga, neraka dan sebagainya. Kata “yu’minun” dipahami dari
penggunaan bentuk kata kerja mudhari yakni kata kerja masa kini dan yang akan
datang. Ayat ini mendahulukan objek keyakinan (akhirat) sebelum kata kerjanya
untuk mengisyaratkan betapa kukuh dan besarnya perhatian mereka tentang
akhirat, bahkan keyakinan itu telah mewarnai segala aktivitasnya. Visi yang mereka miliki adalah visi yang jauh
tidak terbatas, bukan terbatas pada “di sini” dan “sekarang.”[16]
D.
Analisis Penulis
Dari penafsiran
ayat-ayat takwa tersebut, maka dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai
takwa:
1.
Takwa
adalah sebuah wujud pengendalian diri untuk menghindari perbuatan yang dilarang
oleh Allah dengan mentaati segala perintahnya.
2.
Ciri-ciri
orang yang bertakwa bisa ditemukan pada ayat ketiga dan keempat, yaitu mereka
yang beriman pada hal yang ghaib, yang mendirikan shalat, menafkahkan sebagian
rizki yang telah diberikan, mereka yang beriman pada kitab-kitab yang telah
diturunkan dan mereka yang percaya akan adanya kehidupan akhirat.
Pertama, mereka yang beriman kepada yang ghaib. Inti dari hal yang ghaib
dari ayat tersebut adalah Allah. Sementara iman kepada hal yang ghaib adalah
percaya serta meyakini suatu hal meski hal tersebut tidak Nampak oleh panca
indera. Orang yang bertakwa adalah mereka yang mengimani akan adanya Allah.
Konsekuensinya adalah ketika mereka beriman kepada Allah, maka segala sesuatu
yang datang dari-Nya juga diimani. Allah menciptakan malaikat-malaikat,
rasul-rasul, kitab-kitab, serta hari akhir, maka orang yang bertakwa akan
secara otomatis juga mengimani hal-hal tersebut. Begitu pula seterusnya, apapun
yang datang dari rasul, malaikat, hari hari setelah hari akhir otomatis ikut
diimani pula.
Kedua, mereka yang menyempurnakan shalat. Orang yang bertakwa adalah
mereka yang senantiasa mengerjakan dan menyempurnakan sholat. Kalimat dalam
ayat tersebut mengandung dua kata kerja, yakni mengerjakan dan menyempurnakan.
Maka untuk menjadi orang yang bertakwa tidak cukup jika hanya menggunakan satu
kata kerja di antara dua kata tersebut. Orang yang hanya mengerjakan sholat
tanpa ada usaha untuk menyempurnakan sholatnya maka tidak bisa dikategorikan
sebagai orang yang bertakwa.
Ketiga, mereka yang menafkahkan rizki yang telah diberikan. Ciri yang
ketiga ini berbeda dengan ciri orang bertakwa sebelumnya, yang mana ciri
pertama dan kedua lebih berhablu minallah, sementara ciri ketiga ini lebih
cenderung ke hablu minannas. Orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan
sebagian rizki yang telah diberikan kepadanya. Subjek dari kalimat ini adalah
orang yang bertakwa. Predikat dari kalimat ini adalah menafkahkan, dalam kata
menafkahkan ini mengandung pengertian yang luas tetapi mempunyai satu persamaan
yakni memberi. Maka dapat dipahami, menafkahkan dalam ayat ini meliputi segala
hal yang bersifat memberi, seperti halnya, zakat, infaq, shadaqah dan lain
sebagainya. Semetara objek yang menjadi pemberian ini adalah mereka yang
membutuhkan.
Keempat, mereka yang beriman pada kitab-kitab yang telah diturunkan.
Kitab-kitab yang dimaksud adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an. Orang yang
betakwa tidak akan memperselisihkan kebenaran kitab satu dengan kitab yang
lainya, karena pada dasarnya semua kitab itu berasal dari Allah. Kalau-pun
ternyata ada perbedaan dalam masing masing kitab, hal itu terjadi karena ulah
tangan manusia yang merubah isinya.
Kelima, mereka yang percaya akan adanya kehidupan akhirat. Orang yang
bertakwa akan percaya akan adanya kehidupan setelah dunia, yakni kehidupan
akhirat. Tak berhenti di situ saja, segala sesuatu yang berkaitan dengan
akhirat maka orang yang bertakwa akan percaya adanya. Semisal adanya hari
kebangkitan, hari pertimbangan, hari perhitungan, surge dan neraka.
3.
Konsep
Takwa
Setelah
mendapatkan poin-poin atas penafsiran ayat takwa tersebut, dapat diambil sebuah
konsep takwa yang dimaksudkan dalam ayat tersebut . Yaitu, takwa tidak hanya
mencakup hubungan manusia dengan Penciptanya tetapi hubungan manusia dengan
manusia. Terbukti dengan ciri-ciri yang ada dalam ayat tersebut yang secara
jelas mengandur unsur social. Ditambah lagi dapat diketahui dari seringnya
Allah menyandingkan hablu minallah dengan hablu minannas dalam firman-Nya.
Kerap kali kata aqimus sholat dilanjutkan dengan wa atuz zakat
ditemukan dalam firman-firman-Nya. Jadi penulis berpendapat, orang yang
bertakwa tidak hanya yang bagus hablu min Allah nya saja tetapi mereka yang
seimbang dalam hal hablu min Allah dan hablu min nas nya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Taqwa berimplikasi pada seluruh kehidupan
Manusia, Taqwa akan menuntun manusia ke jalan yang benar, kata taqwa bukan
hanya menghindari adzab Allah sebagai antisipasi menolak kemudharatan, akan
tetapi memiliki semangat keberagamaan (religious spirit) yakni dengan
memperbaiki hubungan vertical (dengan Allah) dan juga horizontal (dengan
Manusia).
Ciri-ciri
orang yang bertakwa adalah; Pertama, mereka yang beriman kepada hal yang
ghaib, yang dalam hal ini adalah Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman
kepada Rasul, Iman kepada Kitab-kitab dan Iman kepada Hari Akhir. Kedua,
mereka yang senantiasa mengerjakan sholat dan menyempurnakanya. Ketiga,
mereka yang menafkahkan sebagian rizki yang diberikan kepadanya, segala sesuatu
yang bersifat memberi (zakat, shadaqah, infaq dll.), Keempat, mereka
yang percaya dengan adanya kehidupan akhirat setelah kehidupan dunia, meliputi
segala hal yang berkaitan dengan akhirat (surga, neraka, hisab, mizan dll.).
B.
Saran
Penulis
menyadari penelitian ini masih banyak kekurangan atau bahkan terdapat
kekeliruan. Maka dari itu penulis sangat mengaharapkan masukan yang dapat
dijadikan sebuah ilmu untuk lebih baik dalam memahami penafsiran al-Qur;an.
DAFTAR PUSTAKA
Muhammad bin
Abdurrahman bin Ishaq al-Sheikh, Abdullah, Tafsir
Ibnu Katsir Jilid 1, Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2003.
Qutb,
Sayyid, Terjemah Tafsir fi Zhilalil Qur’an Juz 1.pdf
Munawar-Rachman,
Budhy Ensiklopedi Nurcholish Madjid; Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban,
Edisi Digital Jilid 2, Jakarta: Democracy Project, 2012.
Shaleh, M. Ashaf, Takwa Makna dan Hikmahnya dalam Alquran, PT.
Gelora Aksara Pratama
Gelora Aksara Pratama
Shihab,
M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an,
Jakarta: Lentera Hati, 2002.
[2]
Sayyid Qutb, Tafsir
fi Zhilalil Qur’an Juz 1, (), h. 49.
[3]
Budhy
Munawar-Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid; Pemikiran Islam di Kanvas
Peradaban, Edisi Digital Jilid 2, (Jakarta: Democracy Project, 2012), h.
1060.
[4] Abdullah bin Muhammad bin
Abdurrahman bin Ishaq al-Sheikh, Tafsir
Ibnu Katsir Jilid 1, (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2003), h. 45.
[5] Ibid.,
h. 46.
[6] Sayyid Qutb, Terjemah
Tafsir fi Zhilalil Qur’an Juz 1.pdf, h. 46-47.
[7] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an,
(Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 108-109.
[9] Abdullah bin Muhammad bin
Abdurrahman bin Ishaq al-Sheikh, Tafsir
Ibnu Katsir Jilid 1, (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2003), h. 49.
[10] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an,
(Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 111.
[12] Sayyid Qutb, Tafsir
fi Zhilalil Qur’an Juz 1.pdf, h. 48-49.
[13] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an,
(Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 113.
[14] Abdullah bin Muhammad bin
Abdurrahman bin Ishaq al-Sheikh, Tafsir
Ibnu Katsir Jilid 1, (Bogor: Pustaka Imam asy-Syafi’I, 2003), h. 52.
[15] Sayyid Qutb, Tafsir
fi Zhilalil Qur’an Juz 1, (), h. 49.
[16] M. Quraish
Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an,
(Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 113.
No comments:
Post a Comment