Tuesday, September 10, 2019

DINASTI ABBASIYAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
Dalam sejarah Islam khususnya setelah wafatnya para Khulafa’ur Rasyidin, mulai muncul berbagai kerajaan/dinasti. Salah satunya adalah Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini muncul setelah runtuhnya Dinasti Umayyah yang berumur ± 90 tahun saja. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah Ash-Shaffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib, beliau adalah salah satu keturunan Al-Abbas, salah satu paman Rasulullah SAW. Dinasti ini berpusat di Baghdad yang bermulai dari tahun 750-1258 Masehi.
Awal pembentukan dinasti ini  banyak sekali pertumpahan darah yang dilakukan oleh khalifah pertamanya. Pertumpahan darah ini dilakukan untuk membasmi sanak famili dan anggota keluarga dari Dinasti Umayyah yang selama ini memimpin. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pembalasan dendam/ pemberontakan dari Bani Umayyah.

B.       RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah ?
2.      Bagaimana Para Khalifah Dinasti Abbasiyah ?
3.      Bagaimana Perkembangan Dinasti Abbasiyah ?
4.      Bagaimana Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Abbasiyah ?
C.      TUJUAN
1.      Mengetahui Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah.
2.      Mengetahui Para Khalifah Dinasti Abbasiyah
3.      Mengetahui Perkembangan Dinasti Abbasiyah
4.      Mengetahui Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Abbasiyah.






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Dinasti yang berpusat di Baghdad ini didirikan oleh Abu al-Abbas al-Saffah, keturunan Al-Abbas paman Nabi Muhammad. Dinasti ini berlangsung mulai tahun 750 M hingga 1258 M. Pemeritahan Dinasti  Abbasiyah ini bercorak pluralistik-etnis, saintifik dan religius berbeda dengan pemerintahan Bani Umayyah yang militeristik dan sekularistik.[1]
            Pembentukan Dinasti Abbasiyah ini melalui proses yang cukup panjang, dan menggunakan strategi revolusi yang handal. Pertama, disusun suatu kekuatan bawah tanah oleh Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Kedua, melalui upaya-upaya propaganda yang besifat rahasia tentang hak kekhilafahan yang semestinya berada di tangan Bani Hasyim bukan Bani Umayyah. Ketiga, pemanfaatan kaum Muslimin non Arab (mawali) yang sejak lama merasa disampingkan. Keempat, propaganda terang-terangan yang dilakukan setelah terjadi peristiwa bentrok senjata pada tahun 120 H, dimana Abu Muslim al-Khurasani (salah seorang dari Bani Abbas) mengumumkan pemberontakan terhadap Bani Umayyah. Ia mengangkat bendera hitam sebagai simbol pemberontakan.[2]
B.     Para Khalifah Dinasti Abbasiyah
Sebelum Abul Abbas As Saffah meninggal, ia sudah mewasiatkan siapa penggantinya, yakni saudaranya Abu Ja’far kemudian Isa bin Musa keponakanya. Sistem pengumuman putra mahkota itu mengikuti cara Dinasti Umayyah. Dan satu hal lagi bagi para khalifah Abbasiyah, yaitu pemakaian gelar. Abu Ja’far misalnya, ia memakai gelar Al-Manshur. Para khalifah Bani Abbasiyah berjumlah 37 khalifah, mereka adalah[3] :
1.      Abu al-Abbas al-Saffah (132 H – 136 H)
2.      Abu Ja’far al-Mansur (136 H – 148 H)
3.      Al-Mahdi (158 H – 169 H)
4.      Al-Hadi (169 H – 170 H)
5.      Harun al-Rasyid (170 H – 193 H)
6.      Al-Amin (191 H – 198 H)
7.      Al-Ma’mum (198 H – 218 H)
8.      Al-Mu’tashim (218 H – 227 H)
9.      Al-Watsiq (227 H – 232 H)
10.  Al-Mutawakkil ‘Ala Allah (232 H – 247 H)
11.  Al-Muntashir Billah Muhammad, Abu Ja’far (247 H – 248 H)
12.  Al-Musta’in Billah, Abu al-Abbas (248 H – 251 H)
13.  Al-Mu’taz Billah, Muhammad (252 H – 255 H)
14.  Al-Muhtadi Billah (255 H – 256 H)
15.  Al-Mu’tamid Billah (256 H – 279 H)
16.  Al-Mu’tadhid Billah, Ahmad (279 H – 289 H)
17.  Al-Muktafi Billah, Abu Muhammad (289 H – 295 H)
18.  Al-Muqtadir Billah, Abu Al-Fadhal (295 H – 320 H)
19.  Al-Qahir Billah, Abu Manshur (320 H – 322 H)
20.  Al-Radhi Billah, Abu Al-Abbas (322 H – 329 H)
21.  Al-Muttaqi Lillah, Abu Ishaq (329 H – 333 H)
22.  Al-Mustakfi Billah, Abu al-Qasim (333 H – 334 H)
23.  Al-Muthi’ Lillah, Abu al-Qasim (334 H – 363 H)
24.  Al-Thai’ Lillah, Abu Bakar (363 H – 381 H)
25.  Al-Qadir Billah, Abu al-Abbas (381 H – 422 H)
26.  Al-Qaim Biamrillah, Abu Ja’far (422 H – 467 H)
27.  Muqtadi Baimrillah (467 H – 487 H)
28.  Al-Mustazhhir Abu al-Abbas (487 H – 512 H)
29.   Al-Mustarsyid Billah (512 H – 529 H)
30.  Al-Rasyid Billah (529 H – 530 H)
31.   Al-Muqtafi Liamrillah (530 H – 547 H)
32.   Al-MustanjidBillah (547 H – 566 H)
33.   Al Mustadhi’ Biamrillah (566 H – 575 H)
34.  Al-Nashir Lidinillah (575 H – 622 H)
35.   Al-Zhahir Biamrillah (622 H – 623 H)
36.   Al-Mustanshir Billah, Abu Ja’far (623 H – 640 H)
37.   Al-Mu’tashim Billah, Abu Ahmad (640 H – 648 H)
Pada masa bangsa Mongol dapat menaklukan Baghdad tahun 656 H/1258 M, ada seorang pangeran keturunan Abbasiyah yang lolos dari pembunuhan dan meneruskan kekhalifahan dengan gelar khalifah yang hanya berkuasa di bidang keagamaan di bawah kekuasaan kaum Mamluk di Kairo, Mesir tanpa kekuasaan duniawi yang bergelar Sultan. Jabatan khalifah yang disandang oleh keturunan Abbasiyah di Mesir berakhir dengan diambilnya jabatan itu oleh Sultan Salim I dari Turki Usmani ketika menguasai Mesir pada tahun 1517 M. Dengan demikian, hilanglah kekhalifahan Abbasiyah untuk selama-lamanya.[4]
C.    Perkembangan Dinasti Abbasiyah
Puncak kejayaan Dinasti Abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun al Rasyid ( 786-809 Masehi ) dan anaknya Al-makmun ( 813-833 Masehi ). Ketika Harun Al-Rasyid memerintah, negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamannan terjamin walaupun ada juga pemberontakan, dan luasa wilayahnya mulai dari Afika Utara hingga ke India.[5]
      Pada masanya hidup pula para filsuf, pujangga, ahli baca qur’an, dan para ulama’ di bidang agama. Pada masa ini juga didirikan perpustakaan yang bernama Baitl Hikmah, didalamnya dijadikan sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang berkembang pada masa itu.
      Pada masa ini pula berkembang ilmu pengetahuan agama, sepeti Al-Qur’an, Qira’ah, Hadits, Fiqh, Ilmu Kalam, Bahasa dan Sastra. Empat Madzhab Fiqih tumbuh dan berkembang pada masa dinasti Abbasiyah. Disamping itu berkembang pula Ilmu Filsafat, Logika, Metafisika, Matematika, Ilmu Alam, Geografi, Aljabar, Aritmatika, Mekanika, Astronomi, Musik, Kedokteran, dan Kimia.[6]
Dibawah ini beberapa kemajuan yang terjadi dimasa Bani Abbasiyah :
1.      Bidang Kebudayaan dan Sains
a.       Mendirikan Baitul Hikmah yang berfungsi sebagai perpustakaan, akademi, pusat penerjemahan, dan lembaga penelitian.
b.      Memasukkan beberapa ahli dari orang-orang Persia, seperti keluarga Khalid bin Barmak.
c.       Lahirnya keturunan khalifah yang mempunyai perhatian terhadap ilmu dan kebudayaan.
d.      Bahasa Arab menjadi bahasa resmi negara, ilmu pengetahuan, serta bahasa komunikasi masyarakat.
e.       Berkembang pesatnya ilmu-ilmu bahasa dan sastra Arab seperti ilmu nahwu, sharaf, arudl, dan balaghah.[7]
2.      Bidang Pertanian
a.       Para petani dibina dan diarahkan, serta pajak bumi mereka diringankan.
b.      Memperluas area pertanian, membangun sarana dan pra-sarana transportasi baik darat maupun laut, serta membangun irigasi dan mengairi kanal untuk menyalurkan air ke area pertanian.

3.      Bidang Industri
a.       Muncul kota-kota industri dan kota kosmopolitan dengan beraneka hasil industrinya, seperti tekstil, sutra, wol, gelas, dan keramik.
4.      Bidang Perdagangan
a.       Ibukota pemerintahan Abbasiyah, Baghdad, menjadi kota pusat perdagangan, serta kota transit yang menghubungkan lalu lintas perdagangan antara Barat dan Timur.[8]
5.      Bidang Administrasi
a.       Adanya jabatan wazir yang membawahi kepala-kepala departemen. Wazir terbagi ke dalam dua bagian, pertama, wazir yang bertugas sebagai pembantu khalifah dan bekerja atas nama khalifah, dan yang kedua adalah yang diberi kuasa penuh untuk memimpin pemerintahan[9]
b.      Dibentuk pula diwan al-khitabah, semacam sekretariat negara, yang dipimpin oleh seorang Rais al-kuttab, rais ini dibantu oleh beberapa orang sekretaris, diantaranya yang paling masyhur adalah Katib al-Rasail, Katib al-Kharni, Katib al-Jundi, Katib al-Syurthat, dan Katib al-Qadha.
c.       Kekuasaan pemerintahan dinasti Abbasiyah dibagi ke dalam beberapa propinsi atau imarah, dan setiap imarah dipimpin oleh seorang gubernur. Propinsi-propinsi di zaman dinasti Abbasiyah itu adalah 1) Kufah dan Sawwad, 2) Bashrah dan daerah-daerah Dajlah, Bahrein, Oman, 3) Hijaz dan Yamamah, 4) Yaman, 5) Ahwaz yang meliputi Khuzistan dan Cattan, 6) Persi, 7) Khurasan, 8) Mosul, 9) Jazirah, Armania, Azerbaijan, 10) Suriah, 11) Mesir dan Afrika dan 12) Sind.[10]
6.      Bidang Ekonomi
a.       Harun Ar-Rasyid memanfaatkan kemajuuan perekonomian untuk keperluan sosial seperti membangun rumah sakit, pendidikan dokter, dan mendirikan farmasi.
7.      Bidang Agama
a.       Fiqih
1.      Imam Abu Hanifah (700-767 M).
2.      Imam Malik (713-795 M).
3.      Imam Syafi’i (767-820 M).
4.      Imam Ahmad bin Hambal (780-855 M)
b.      Ilmu Tafsir
1.      Ibnu Jarir At Thabari.
2.      Ibnu Athiyah Al-Andalusi.
3.      Abu Muslim Muhammad bin Bahar Isfahani.
c.       Ilmu Hadist
1.      Imam Bukhari (194-256 H), karyanya Shahih Bukhari.
2.      Imam Muslim (w. 261 H), karyanya Shahih Muslim.
3.      Ibnu Majah, karyanya Sunan Ibnu Majah.
4.      Abu Dawud, karyanya Sunan Abu Dawud.
5.      Imam An Nasa’i, karyanya Sunan An-Nasa’i.
6.      Imam Baihaqi.
d.      Ilmu Kalam
1.      Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi, tokoh Asy’ariyah.
2.      Washil bin Atha, Abu Huzail Al-Allaf (w. 849 M), tokoh Mu’tazilah.
3.      Al-Juba’i.
e.       Ilmu Bahasa
1.      Imam Sibawaih (w. 183 H), karyanya terdiri dari 2 jilid setebal 1.000 halaman.
2.      Al-Kiasi.
3.      Abu Zakaria Al-Farra (w. 208 H). Kitab Nahwunya terdiri dari 6.000 halaman lebih.
f.       Ilmu Matematika
Al Khawarizmi adalah seorang tokoh matematika terkenal Islam. Beliau mengarang kitab Aljabar wal Muqobalah (Ilmu Hitung) dan sebagai penemu angka nol. Tokoh lain adalah Abul Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin Al Abbas (940-998 M) yang terkenal sebagai ahli ilmu Matematika.
8.      Bidang Kedokteran
1.      Ibnu Sina (Avicenna) , karyanya adalah “Al Qonun fi At Thib”, tentang teori dan praktik ilmu kedokteran. Serta membahas pengaruh obat-obatan, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, Canon of Medicine.
2.      Ar Razi, adalah tokok pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles, Ar Razi adalah penulis buku kedokteran anak.
3.      Ibnu Baithar yang mengarang tentang kitab Farmasi (Al Mughni) yang berisi mengenai obat-obatan, serta kitab Jami’ Al Mufradad Al-Adawiyah yang berisi tentang obat-obatan dan makanan bergizi.
D.    Kemunduran dan Kehancuran
1.      Kemunduran
a.       Masuknya dominasi kekuatan luar ke dalam pusat pemerintahan.
b.      Banyak  wilayah-wilayah yang dipimpin oleh para gubernur melepaskan diri dari pusat Baghdad, dan mendirikan dinasti-dinasti kecil.
c.       Kesulitan ekonomi.
d.      Ketidak jelasan sistem pergantian khalifah.
e.       Munculnya gerakan-gerakan pemberontak.[11]
f.       Luasnya wilayah kekuasaan Abbasiyah yang menyebabkan kesulitan komunikasi antara pihak istana dengan daerah.
E.     Kehancuran Dinasti Abbasiyah
1.      Faktor Internal
Menurut Jurji Zaidan, bahwa sebelum Hulagu menyerang Baghdad, ternyata kondisi internal Dinasti Abbasiyah sangatlah lemah. Hal ini disebabkan oleh kemunduran-kemunduran yang dialami dan terjadi pertentangan keras antara kelompok Syi’ah dan Sunni.
Istana menganut paham Sunni, sedangkan wazirnya, Mu’ayid al-Din Alqami menganut paham Syi’ah. Tempat tinggal orang Syi’ah dihancurkan oleh salah seorang anak khalifah yaitu, Al-Daudar dan Abu Bakar. Itulah yang membuat Alqami mengirim surat kepada Hulagu dan tentaranya yang isinya meminta Hulagu untuk menyerang Baghdad.[12]
2.      Faktor Eksternal
Raja Mongolia berkeinginan untuk memperluas kekuasaanya. Maka diperintahkan Kubalai untuk melakukan misi penyerangan ke wilayah Timur, sedangkan Hulagu ke wilayah Barat untuk menaklukan kekhilafahan Islam.[13]
Pada 10 Pebruari 1258 M, benteng Baghdad ditembus pasukan Hulagu, kemudian Baghdad dihancur luluhkan. Kekayaan negara, buku-buku semua dihanguskan. Khalifah beserta keluarganya dibunuh. Sebagian anggota keluarga Bani Abbas ada yang berhasil melarikan diri, diantaranya ada yang menetap di Mesir.



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dinasti Abbasiyah didirikan diatas daerah bekas pemerintahan Bani Umayyah yang memerintah tidak begitu lama. Namun membawa dampak yang cukup signifikan bagi perkembangan peradaban Islam yang ada di dalam sejarah. Dinasti ini di dirikan oleh Abdullah Ash-Shaffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Salah seorang keturunan dari paman Rasulullah SAW, Abbas bin Abdul Muthalib. Kehancuran dinasti ini disebabkan adanya penyerangan secara besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Mongol, dibawah kepemimpinan Hulaghu Khan.















DAFTAR PUSTAKA

Amin,Samsul Munir,2015,Sejarah Peraban Islam,cet V,Jakarta:Cahaya Prima
            Sentosa.
Hamka, 1981,Sejarah Ummat Islam,Jilid II,Jakarta: Bulan Bintang.
Imam Fu’adi,2011, Sejarah Peradaban Islam, cet I Yogyakarta: Teras.
Moh. Nurhakim,2012, Jatuhnya Sebuah Tamadun, cet I ,Jakarta Pusat: Kementrian
            Agama Republik Indonesia



[1]Moh. Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun, cet I (Jakarta Pusat: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012), hlm. 71
[2] Ibid., hlm. 71-72
[3] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, cet. V (Jakarta:Amzah,2015), hlm. 141-143
[4] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, cet. V (Jakarta:Amzah,2015), hlm. 143
[5] Ibid., hlm. 144
[6] Ibid.,
[7] Moh. Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun, cet I (Jakarta Pusat: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012), hlm. 76-77
[8] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam, cet I (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm. 125.
[9] Ibid., hlm. 127-128
[10] Ibid.,
[11] Moh. Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun, hlm. 77
[12] Hamka,Sejarah Ummat Islam, jilid II, Jakarta:Bulan Bintang, 1981, hlm 102
[13]Moh.Nurhakim,Jatuhnya Sebuah Tamadun , hlm. 79-83

No comments:

Post a Comment