Tuesday, September 10, 2019

TAFSIR SURAT AL-MA’UN DAN AT-TAGHABUN AYAT ENAM BELAS




TAFSIR SURAT AL-MA’UN DAN AT-TAGHABUN AYAT ENAM BELAS
Oleh : Ahmad Minannurohman
A.    Surat Al-Ma’un

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4)
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)

Artinya : “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.”
Isi Kandungan : Orang yang membohongi agamnya adalah orang yang menelantarkan, mengambil hak, menganiaya anak yatim juga orang yang tidak mau membagi atau mencegah orang untuk membagikan makanan kepada orang yang membutuhkan. Kemudian orang yang beribadah hanya untuk dipuji orang lain atau disebut riya’.
1.      Asbabun Nuzul
Asbabun Nuzul Surat Al-Ma’un ini terletak pada ayat ke-empat. Hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Tharif bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas yang berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan sikap orang-orang munafik yang jika berada di tengah-tengah kaum muslimin maka mereka memamer-mamerkan shalat mereka, tetapi jika tidak ada kaum muslimin maka mereka menghentikan shalatnya. Orang-orang tersebut juga tidak mau memberi pinjaman pada kaum muslimin.”
Jadi dapat diambil sebuah kesimpulan bahwasanya Surat Al-Ma’un turun disebabkan oleh sikap munafik dari sebagian kaum Muslimin. Pada waktu itu ada sebagian dari kaum muslimin yang sholatnya lalai. Mereka shalat dengan niatan agar orang lain memujinya. Dengan kata lain mereka shalat ketika ada orang yang melihatnya, jika tidak ada orang mereka tidak melaksanakan sholat. Tak hanya itu, mereka juga tidak mau mendermakan atau meminjamkan sedikit hartanya untuk orang muslim lainya yang sedang membutuhkan.
2.      Makkiy Madaniy
Setelah mengupas Asbabun Nuzulnya sekarang giliran mengupas Makkiy Madaniy. Seperti kita ketahui Makkiy Madaniy adalah ilmu tafsir qur’an yang membahas mengenai tempat turunya surat-surat dalam Al-Qur’an. Surat Al-Ma’un tergolong surat Makkiyah karena surat ini diturunkan di Makkah. Hal ini diperkuat dengan isi dari Surat Al-Ma’un yang ditujukan pada orang pembangkang lagi sombong yakni mereka yang munafik dalam beribadah. Suratnya yang pendek juga menjadi bukti bahwasanya surat Al-Ma’un adalah surat Makkiyah. Bukti tersebut didasari atas ciri-ciri surat Makkiyah yang diantaranya adalah[1] :
a.       Sebagian besar surat Makkiyah penyampaianya bersifat keras, karena yang ditujukan adalah orang-orang yang melanggar Islam juga besar kepala.
b.      Sebagian besar surat Makkiyah ayatnya pendek-pendek, dengan berbagai perselisihan antara Rasul dengan musuh-musuhnya.
c.       Sebgian besar surat Makkiyahi berisi tentang akidah dan ketauhidan.
3.      Fawatihis Suwar
Dalam menafsirkan Al-Qur’an cara ketiga adalah dengan menggunakan Ilmu Fawatihis Suwar, yakni ilmu yang membahas tentang kalimat-kalimat pada pembukaan-pembukaan surat dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini Surat Al-Ma’un termasuk kategori fawatihis suwar mengenai pembukaan dengan pertanyaan (al-istifham). Tepatnya pada ayat pertama yang berbunyi,  أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) yang berarti “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama.” ?. Pembukaan dengan pertanyaan pada ayat ini termasuk pertanyaan yang positif seperti halnya pada surat An-Naba’, Al-Dahr, dan Al-Ghasiyah.[2]
Jadi kesimpulan penafsiranya, surat Al-Ma’un adalah satu dari surat-surat Al-Qur’an yang berjumlah enam ayat dan tergolong surat Makkiyah yang mana turunya disebabkan oleh sikap munafik dan kikir sebagian orang muslim pada waktu itu. Surat Al-Ma’un juga dapat dijadikan sebagai pedoman bahwasanya dalam beribadah kita tidak diperbolehkan untuk pamer (riya’), tidak diperbolehkan untuk menghardik anak yatim, dan tidak diperbolehkan untuk bersifat kikir dalam bersedekah.
B.     Surat At-Taghabun Ayat 16
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Isi Kandungan : Taqwa adalah sesuai kesanggupan diri yang melakukanya. Maksudnya tidak sampai taqwa itu berlebihan hingga melakukan perintah Allah dengan sebanyak-banyaknya hingga melukai anggota jasmaninya sendiri.
1.      Nasikh wa Mansukh
Satu lagi ilmu dalam menafsirkan Al-Qur’an yakni Nasikh wa Mansukh. Nasikh secara bahasa adalah penghapus, sedangkan Mansukh secara bahasa adalah yang dihapus. Nasikh wa Mansukh adalah ilmu yang membahas tentang pengubahan atau pemindahan hukum syara’ dengan hukum syara’ yang lain atau yang datang kemudian.[3]
Surat At-Taghabun sebagai salah satu surat dalam Al-Qur’an dalam hal ini mengandung Nasikh wa Mansukh, tepatnya pada ayat ke-enam belas yang berbunyi,
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ayat tersebut menghapus (menasakh) ayat yang lebih dulu turun yakni pada surat Ali Imran ayat 102 yang berbunyi,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.
Nasikh wa Mansukh pada kedua ayat tersebut adalah mengenai taqwa kepada Allah SWT. Yang mana ayat pertama memerintahkan kepada kita untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya. Tapi taqwa seperti apa yang dimaksud dalam ayat ini bagaimana masih belum jelas bagaimana caranya. Maka turunya ayat kedua menjawab maksud dari ayat pertama bahwasanya taqwa yang sebenarnya adalah dengan semampu kita, taat dan melakukan hal yang baik pada diri sendiri. Karena ayat sebelumnya turun ketika orang-orang muslim salah dalam memahaminya dengan meningkatkan frekwensi ibadahnya sampai-sampai dahi dan tumitnya bengkak.[4]
2.      Muhkam Mutasyabih
Kedua adalah Muhkam dan Mutasyabih. Muhkam dan Mutasyabih adalah ilmu yang membahas tentang jelas dan samarnya lafadz Al-Qur’an. [5] Ilmu ini juga penting dikaji karena ilmu ini juga berperan dalam penafsiran Al-Qur’an. Surat At-Taghabun 16 dan Ali Imran 102 adalah contoh dari sekian banyak surat Al-Qur’an yang mengandung kemuhkaman dan kemutasyabihatan dari segi waktu seperti halnya sampai kapan batas melakukan sesuatu.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”.(QS. Ali Imran 102)
Ayat tersebut mengandung sebuah kemutasyabihatan tentang sampai kapan taqwa yang sebenar-benarnya karena pada ayat tersebut tidak disebutkan batas waktunya. Hal ini bisa dijawab dengan membandingkan ayat tersebut dengan ayat lainya (Surat Ali Imran 102) agar mendapat kejelasan.
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Thagabun 16)
Dapat diambil kesimpulan bahwasanya batas waktu ketaqwaan adalah ketika kita sudah mencapai batas kekuatan kita dalam bertaqwa. Jadi ketaqwaan haruslah diimbangi dengan kekuatan diri kita sendiri. Jangan sampai ketaqwaan tersebut melewati batas seperti halnya shalat beribu-ribu kali hingga melukai dahi atau tui kita sendiri.
3.      Makkiy Madaniy
Jika dilihat dari isi ayanya yang mengarah ke dalam perincian ibadah dan tanpa ada perdebatan maka dapat dipastikan Surat At Taghabun tergolong Madaniyah. Diperkuat lagi dengan jumlah ayatnya yang panjang.
4.      Asbabun Nuzul
Sebab diturunkanya ayat tersebut adalah ketika kaum muslimin dalam memahami taqwa tedapat kesalahan. Mereka memahami konsep taqwa dengan melipat gandakan ibadahnya sampai-sampai tumitnya bengkak dan dahinya mengelupas. Atas kejadian tersebut Allah menurunkan ayat ini.
 Hal ini berdasar pada apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Said bin Jabir yang berkata, “Ketika turun ayat 102 Surat Ali Imran, ...Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, Kaum muslimin merasa sangat cemas sehingga mereka melipat gandakan frekuensi ibadah mereka, sampai-sampai dahi mereka mengelupas dan tumit mereka bengkak. Sebagai bentuk keringanan, Allah menurunkan ayat ini.”
Jadi kesimpulan penafsiranya adalah bertaqwa kepada Allah bukan berarti kita melakukan peribadatan dengan berkali-kali tanpa henti. Tetapi taqwa kepada Allah adalah dengan melakukan perintahnya dan menjauhi larangnya selaras dengan kemampuan diri kita. Misalnya ketika kita sudah tua tidaklah mungkin kita menunaikan sholat sunnah beribu-ribu rakaat karena hal itu justru akan menyakiti jasamani kita.
Itulah pentingnya ilmu-ilmu tafsir qur’an. Karena benih perpecahan adalah kesalahan penafsiran yang kemudian membuat golongan satu dengan golongan lainya terpecah. Maka jika kita mempelajari ilmu-ilmu tafsir qur’an, penafsiran yang salah tidak akan terjadi dan ini tentunya sangat meminimalisir perpecahan. Banyak golongan yang menganggap dirinya adalah yang paling benar dan yang berbeda dengan dirinya adalah kafir, sesat, halal untuk dibunuh. Golongan seperti itulah contoh dari penafsiran yang keliru. Boleh saja dalam menafsirkan sesuatu kita merasa benar, tapi jangan sampai kita merasa benar sendiri sampai-sampai mendakwa orang lain kafir, sesat. Karena pada dasarnya kebenaran hanya milik Allah Azza wa Jalla. Benar menurut kita belum tentu benar menurut Allah.


[1] Muhammad Gufron, Rahmawati, Ulumul Qur’an Praktis dan Mudah, (Yogyakarta: Teras 2013), h. 42-43.
[2] Ibid., h. 126.
[3] Ibid., h. 63.
[4] Tafsir Jalalain
[5]

No comments:

Post a Comment