TAFSIR SURAT AL-MA’UN DAN AT-TAGHABUN AYAT ENAM BELAS
Oleh : Ahmad Minannurohman
A.
Surat Al-Ma’un
أَرَأَيْتَ
الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا
يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4)
الَّذِينَ
هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
(7)
Artinya : “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, Itulah orang yang
menghardik anak yatim, Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari
shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang
berguna.”
Isi Kandungan :
Orang yang membohongi agamnya adalah orang yang menelantarkan, mengambil hak,
menganiaya anak yatim juga orang yang tidak mau membagi atau mencegah orang untuk
membagikan makanan kepada orang yang membutuhkan. Kemudian orang yang beribadah
hanya untuk dipuji orang lain atau disebut riya’.
1.
Asbabun Nuzul
Asbabun Nuzul Surat Al-Ma’un ini terletak pada ayat ke-empat. Hal
ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Tharif bin Abi
Thalhah dari Ibnu Abbas yang berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan sikap
orang-orang munafik yang jika berada di tengah-tengah kaum muslimin maka mereka
memamer-mamerkan shalat mereka, tetapi jika tidak ada kaum muslimin maka mereka
menghentikan shalatnya. Orang-orang tersebut juga tidak mau memberi pinjaman
pada kaum muslimin.”
Jadi dapat diambil sebuah kesimpulan bahwasanya Surat Al-Ma’un
turun disebabkan oleh sikap munafik dari sebagian kaum Muslimin. Pada waktu itu
ada sebagian dari kaum muslimin yang sholatnya lalai. Mereka shalat dengan
niatan agar orang lain memujinya. Dengan kata lain mereka shalat ketika ada
orang yang melihatnya, jika tidak ada orang mereka tidak melaksanakan sholat.
Tak hanya itu, mereka juga tidak mau mendermakan atau meminjamkan sedikit
hartanya untuk orang muslim lainya yang sedang membutuhkan.
2.
Makkiy Madaniy
Setelah mengupas Asbabun Nuzulnya sekarang giliran mengupas Makkiy
Madaniy. Seperti kita ketahui Makkiy Madaniy adalah ilmu tafsir qur’an yang
membahas mengenai tempat turunya surat-surat dalam Al-Qur’an. Surat Al-Ma’un
tergolong surat Makkiyah karena surat ini diturunkan di Makkah. Hal ini
diperkuat dengan isi dari Surat Al-Ma’un yang ditujukan pada orang pembangkang
lagi sombong yakni mereka yang munafik dalam beribadah. Suratnya yang pendek
juga menjadi bukti bahwasanya surat Al-Ma’un adalah surat Makkiyah. Bukti
tersebut didasari atas ciri-ciri surat Makkiyah yang diantaranya adalah[1] :
a.
Sebagian besar surat Makkiyah penyampaianya bersifat keras,
karena yang ditujukan adalah orang-orang yang melanggar Islam juga besar
kepala.
b.
Sebagian besar surat Makkiyah ayatnya pendek-pendek, dengan
berbagai perselisihan antara Rasul dengan musuh-musuhnya.
c.
Sebgian besar surat Makkiyahi berisi tentang akidah dan
ketauhidan.
3.
Fawatihis Suwar
Dalam menafsirkan Al-Qur’an cara ketiga adalah dengan menggunakan
Ilmu Fawatihis Suwar, yakni ilmu yang membahas tentang kalimat-kalimat pada
pembukaan-pembukaan surat dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini Surat Al-Ma’un
termasuk kategori fawatihis suwar mengenai pembukaan dengan pertanyaan
(al-istifham). Tepatnya pada ayat pertama yang berbunyi, أَرَأَيْتَ
الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) yang berarti “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama.” ?. Pembukaan dengan
pertanyaan pada ayat ini termasuk pertanyaan yang positif seperti halnya pada
surat An-Naba’, Al-Dahr, dan Al-Ghasiyah.[2]
Jadi kesimpulan
penafsiranya, surat Al-Ma’un adalah satu dari surat-surat Al-Qur’an yang
berjumlah enam ayat dan tergolong surat Makkiyah yang mana turunya disebabkan
oleh sikap munafik dan kikir sebagian orang muslim pada waktu itu. Surat
Al-Ma’un juga dapat dijadikan sebagai pedoman bahwasanya dalam beribadah kita
tidak diperbolehkan untuk pamer (riya’), tidak diperbolehkan untuk menghardik
anak yatim, dan tidak diperbolehkan untuk bersifat kikir dalam bersedekah.
B.
Surat At-Taghabun Ayat 16
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ
فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu
dan dengarlah serta ta’atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu .
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah
orang-orang yang beruntung.”
Isi Kandungan : Taqwa adalah sesuai kesanggupan diri yang
melakukanya. Maksudnya tidak sampai taqwa itu berlebihan hingga melakukan
perintah Allah dengan sebanyak-banyaknya hingga melukai anggota jasmaninya
sendiri.
1.
Nasikh wa Mansukh
Satu lagi ilmu dalam menafsirkan Al-Qur’an yakni Nasikh wa Mansukh.
Nasikh secara bahasa adalah penghapus, sedangkan Mansukh secara bahasa adalah
yang dihapus. Nasikh wa Mansukh adalah ilmu yang membahas tentang pengubahan
atau pemindahan hukum syara’ dengan hukum syara’ yang lain atau yang datang
kemudian.[3]
Surat At-Taghabun sebagai salah satu surat dalam Al-Qur’an dalam
hal ini mengandung Nasikh wa Mansukh, tepatnya pada ayat ke-enam belas yang
berbunyi,
فَاتَّقُوا اللَّهَ
مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن
يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu
dan dengarlah serta ta’atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu .
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah
orang-orang yang beruntung.”
Ayat tersebut
menghapus (menasakh) ayat yang lebih dulu turun yakni pada surat Ali Imran ayat
102 yang berbunyi,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan
dalam keadaan beragama Islam”.
Nasikh wa
Mansukh pada kedua ayat tersebut adalah mengenai taqwa kepada Allah SWT. Yang
mana ayat pertama memerintahkan kepada kita untuk bertaqwa dengan
sebenar-benarnya. Tapi taqwa seperti apa yang dimaksud dalam ayat ini bagaimana
masih belum jelas bagaimana caranya. Maka turunya ayat kedua menjawab maksud dari
ayat pertama bahwasanya taqwa yang sebenarnya adalah dengan semampu kita, taat
dan melakukan hal yang baik pada diri sendiri. Karena ayat sebelumnya turun
ketika orang-orang muslim salah dalam memahaminya dengan meningkatkan frekwensi
ibadahnya sampai-sampai dahi dan tumitnya bengkak.[4]
2.
Muhkam Mutasyabih
Kedua adalah Muhkam dan Mutasyabih. Muhkam dan Mutasyabih adalah
ilmu yang membahas tentang jelas dan samarnya lafadz Al-Qur’an. [5]
Ilmu ini juga penting dikaji karena ilmu ini juga berperan dalam penafsiran
Al-Qur’an. Surat At-Taghabun 16 dan Ali Imran 102 adalah contoh dari sekian
banyak surat Al-Qur’an yang mengandung kemuhkaman dan kemutasyabihatan dari
segi waktu seperti halnya sampai kapan batas melakukan sesuatu.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan
dalam keadaan beragama Islam”.(QS. Ali Imran 102)
Ayat tersebut
mengandung sebuah kemutasyabihatan tentang sampai kapan taqwa yang
sebenar-benarnya karena pada ayat tersebut tidak disebutkan batas waktunya. Hal
ini bisa dijawab dengan membandingkan ayat tersebut dengan ayat lainya (Surat
Ali Imran 102) agar mendapat kejelasan.
فَاتَّقُوا اللَّهَ
مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن
يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya : “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu
dan dengarlah serta ta’atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu .
Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Thagabun 16)
Dapat diambil
kesimpulan bahwasanya batas waktu ketaqwaan adalah ketika kita sudah mencapai
batas kekuatan kita dalam bertaqwa. Jadi ketaqwaan haruslah diimbangi dengan
kekuatan diri kita sendiri. Jangan sampai ketaqwaan tersebut melewati batas
seperti halnya shalat beribu-ribu kali hingga melukai dahi atau tui kita
sendiri.
3.
Makkiy Madaniy
Jika dilihat dari isi ayanya yang mengarah ke dalam perincian
ibadah dan tanpa ada perdebatan maka dapat dipastikan Surat At Taghabun tergolong
Madaniyah. Diperkuat lagi dengan jumlah ayatnya yang panjang.
4.
Asbabun Nuzul
Sebab diturunkanya ayat tersebut adalah ketika kaum muslimin dalam
memahami taqwa tedapat kesalahan. Mereka memahami konsep taqwa dengan melipat
gandakan ibadahnya sampai-sampai tumitnya bengkak dan dahinya mengelupas. Atas
kejadian tersebut Allah menurunkan ayat ini.
Hal ini berdasar pada apa
yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Said bin Jabir yang berkata, “Ketika
turun ayat 102 Surat Ali Imran, ...Bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya
taqwa kepada-Nya, Kaum muslimin merasa sangat cemas sehingga mereka melipat
gandakan frekuensi ibadah mereka, sampai-sampai dahi mereka mengelupas dan
tumit mereka bengkak. Sebagai bentuk keringanan, Allah menurunkan ayat ini.”
Jadi kesimpulan penafsiranya adalah bertaqwa kepada Allah bukan
berarti kita melakukan peribadatan dengan berkali-kali tanpa henti. Tetapi
taqwa kepada Allah adalah dengan melakukan perintahnya dan menjauhi larangnya
selaras dengan kemampuan diri kita. Misalnya ketika kita sudah tua tidaklah
mungkin kita menunaikan sholat sunnah beribu-ribu rakaat karena hal itu justru
akan menyakiti jasamani kita.
Itulah
pentingnya ilmu-ilmu tafsir qur’an. Karena benih perpecahan adalah kesalahan
penafsiran yang kemudian membuat golongan satu dengan golongan lainya terpecah.
Maka jika kita mempelajari ilmu-ilmu tafsir qur’an, penafsiran yang salah tidak
akan terjadi dan ini tentunya sangat meminimalisir perpecahan. Banyak golongan
yang menganggap dirinya adalah yang paling benar dan yang berbeda dengan
dirinya adalah kafir, sesat, halal untuk dibunuh. Golongan seperti itulah
contoh dari penafsiran yang keliru. Boleh saja dalam menafsirkan sesuatu kita
merasa benar, tapi jangan sampai kita merasa benar sendiri sampai-sampai
mendakwa orang lain kafir, sesat. Karena pada dasarnya kebenaran hanya milik
Allah Azza wa Jalla. Benar menurut kita belum tentu benar menurut Allah.
No comments:
Post a Comment