BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Perintah Allah SWT kepada
Rosululloh SAW untuk berdakwah secara terang – terangan menjadi sebuah cobaan
atau tantangan bagi Rosululloh. Banyak dari Quraisy yang menentang ajakan
Rosululloh untuk menyembah Allah SWT. Karena pada saat itu Quraisy sudah
mempunyai sesembahan berupa berhala yang mereka buat sendiri. Mereka khawatir
jika ajaran yang dibawa Rosululloh SAW merusak tradisi nenek moyang mereka.
Berbagai upaya terus dilakukan oleh Quraisyi, diantarnya dengan menggunakan
cara diplomasi.
Berbagai ancaman, siksaan, olokan
terus menimpa kaum muslimin. Keadaan yang terus demikian membuat Rosululloh berfikir
untuk mencari tempat yang aman untuk mempertahankan ajaran yang dibawannya.
Akhirnya Rosululloh SAW memilih salah satu negara di benua Afrika, yakni
Habasyah. Rasulullah meminta kaum Muslimin untuk berhijrah ke Habasyah untuk
mencari perlindungan. Lantas apakah Raja Habasyah menerima permintaan dari kaum
Muslimin atau tidak, serta diplomasi seperti apa yang dilakukan Quraisy untuk
menghentikan dakwah Nabi SAW, akan kami jelaskan dalam makalah ini.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana pengertian Diplomasi dan Suaka
Politik ?
2. Bagaimana diplomasi yang dilakukan Kaum
Quraisy ?
3. Bagaimana proses pencarian suaka politik
ke Habasyah ?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian Diplomasi dan
Suaka Politik.
2. Mengetahui diplomasi yang dilakukan Kaum
Quraisy.
3. Mengetahui proses Pencarian Suaka
Politik ke Habasyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Diplomasi dan Suaka Politik
Diplomasi
adalah seni dan praktik bernegoisasi oleh seseorang (diplomat) yang biasanya
langsung terikat dengan diplomasi internasional yang biasanya mengurus berbagai
hal, seperti budaya, ekonomi, dan perdagangan. Biasanya, orang menganggap
diplomasi sebagai cara mendapatkan keuntungan dengan kata-kata yang halus.[1]
Jadi diplomasi adalah suatu hubungan atau kerjasama yang bertujuan untuk
memperoleh keuntungan atau kemudahan.
Suaka politik
adalah perlindungan politik yang dapat diminta suatu negara kepada negara lain.
Permintaan perlindungan ini diajukan karena seseorang merasakan adanya
tekanan-tekanan politik yang dapat mengurangi kebebasan politiknya.[2]
Jadi suaka politik adalah mencari perlindungan di negara lain, karena negaranya
sendiri tidak aman.
B.
Diplomasi Quraisy
Dakwah
Rasulullah pertama kali kepada bangsa Quraisy di Makkah adalah mengenalkan
Allah Yang Maha Esa (ketauhidan). Allah adalah pencipta alam semesta, pemberi
kehidupan dan kematian, pemberi rizki dan lain-lain. Harapan Rasulullah dengan
menanamkan tauhid yang benar akan membawa perubahan yang mendasar bagi bangsa
Quraisy.[3]
Kemudian
Rasulullah menyampaikan ajaran Islam kepada keluarga terdekatnya secara
diam-diam. Hingga ada beberapa orang
yang menerima ajaran Rasulullah Saw, diantaranya adalah dari golongan perempuan
adalah Siti Khadijah dan dari golongan laki laki adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq
serta dari golongan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib.[4]
Mereka mengetahui kebenaran akan kerasulan Muhammad dari kitab-kitab suci
terdahulu.
Seiring Hamzah
dan Umar masuk Islam, dakwah memasuki fase baru. Rasulullah SAW berdakwah
secara terang-terangan, hingga situasi ini membuat kaum Musyrikin takut,
lantaran jumlah kaum Muslimin semakin bertambah.[5]
Berbagai upaya terus dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan dakwah
Rasulullah. Diantaranya adalah dengan melakukan diplomasi. Seperti halnya yang
dilakukan ‘Utbah yang mendatangi Rasulullah seraya berkata,
“Wahai
keponakanku !, anda adalah seorang dari lingkungan kami, dan anda telah
mengetahui kedudukan silsilah kami (yang dipandang terhormat oleh semua orang
Arab). Namun ternyata anda telah membawa suatu persoalan yang amat gawat kepada
kaum kerabat anda, anda telah memecah-belah kerukunan dan persatuan mereka.
Sekarang dengarkanlah baik-baik, saya hendak menawarkan kepada anda beberapa
hal yang mungkin dapat anda terima salah satu diantaranya.”[6]
Rasulullah
SAW menjawab,
“Katakanlah, hai Abu Walid, apa yang hendak kamu
tawarkan ?”
Utbah bin Rabi’ah berkata,
“Wahai keponakanku, jika dengan dakwah yang anda
lakukan itu anda ingin mendapatkan harta kekayaan, maka akan kami kumpulkan
harta kekayaan yang ada pada kami untuk anda, sehingga anda menjadi orang yang
terkaya di kalangan kami. Jika anda menginginkan kehormatan dan kemuliaan, anda
akan kami angkat sebagai pemimpin, dan kami tidak akan memutuskan suatu
persoalan apa pun tanpa persetujuan anda. Jika anda ingin menjadi raja, kami
bersedia menobatkan anda sebagai raja kami. Jika anda tidak sanggup menangkal
jin yang merasuk ke dalam jiwa anda, kami bersedia mencari tabib
yang sanggup menangkalnya, dan kami tidak menghitung biaya yang diperlukan
sampai anda sembuh.”[7]
Rasulullah SAW bertanya kepada ‘Utbah,
“Sudah selesaikan anda wahai Abu Walid ?”
“Sudah”, jawab ‘Utbah
“Sekarang dengarkanlah dariku”, kata Nabi Muhammad SAW
Kemudian Nabi Muhammad SAW membaca ayat 13 dari
Surat Fushsilat,
“Jika mereka berpaling maka katakanlah, Kalian telah
kuperingatkan (mengenai datangnya) petir yang menghancurkan kaum ‘Aad dan Tsamud (dahulu).”
‘Utbah menutup mulut Nabi SAW dengan tanganya
memohon supaya berhenti membacanya karena takut ancaman yang terkandung di
dalam ayat tersebut. Kemudian Utbah kembali kepada kaumnya yang sudah
menantinya.[8] Mereka bertanya,
“Bagaimana
hasilnya wahai Abu al-Walid ?”
Utbah
menjawab,
“Aku mendengar perkataan yang belum pernah aku
dengar sama sekali,perkataan itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan pula
mantera dukun. Wahai kaum Quraisy, taatilah aku, dan biarkan Muhammad dengan
urusanya. Perkataan yang kudengar tadi benar-benar akan menjadi berita besar.
Jika bangsa Arab mau menerimanya, maka dengan kehadiranya, kalian tidak akan
lagi memerlukan bangsa lain. Jika ia dapat menguasai bangsa Arab, kerajaanya
akan menjadi kerajaan kalian pula, begitu juga dengan kemulianya. Jadilah
manusia-manusia paling berbahagia dengan keberadaanya.”[9]
Orang-orang
Quraisy berkata,
“Dia telah menyihirmu dengan lisanya, wahai Abu
Walid.”
Utbah
menyampaikan,
“Inilah pendapatku tentang dia. Untuk kalian,
silahkan semau kalian.”[10]
Thabari
dan Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa beberapa orang musyrik, termasuk Walid bin
Mughira dan al-Ash bin Wa’il, datang menemui Rasulullah SAW menawarkan harta
kekayaan dan gadis tercantik kepadanya, dengan syarat beliau bersedia
meninggalkan kecaman terhadap tuhan-tuhan mereka.[11]
Ketika Nabi SAW menolak tawaran tersebut, mereka menawarkan
“Bagaimana jika anda menyembah tuhan-tuhan kami
sehari, dan kami menyembah tuhanmu sehari (bergantian) ?”
Tawaran ini juga ditolak oleh Nabi SAW. Berkenaan
dengan hal ini Allah menurunkan firman-Nya yakni Surat Al-Kafirun.[12]
C.
Pencarian Suaka Politik ke Habsyah
Pencarian
suaka politik ini didasarkan atas gangguan, siksaan, dan juga kekerasan dari
kaum Quraisy yang tidak berhasil menghentikan dakwah Rasulullah SAW. Melihat
kondisi tersebut, maka Rasulullah SAW berkhutbah ;
“Pergilah kalian ke tanah Habasyah, karena di sana
ada seorang raja yang tak seorang pun didzalimi, sampai Allah memberi kalian
jalan keluar dari kesulitan yang kalian hadapi.”[13]
Berangkatlah
sebagian kaum Muslimin ke Habasyah dengan menaiki perahu[14]
yang disewa seharga setengah dinar.[15]
Inilah hijrah pertama dalam sejarah
Islam. Banyaknya kaum Muslimin yang berhijrah adalah sepuluh orang laki-laki
dan lima orang perempuan, yang diantaranya adalah Sayyidina Utsman bin Affan RA
beserta istrinya Ruqayyah binti Rasulullah SAW,
Abu Hudzaifah bin Ansabah bin Rabi’ah bersama istrinya Sahlah binti Suhail, dan
Zubair bin Awwam.[16]
Hijrah ini terjadi pada bulan ketujuh tahun kelima kenabian .[17]
Melihat
hijrahnya kaum Muslimin ke Habsyah, kaum Quraisy segera mengutus Abdullah bin
Abu Rabi’ah dan Amr bin Ash (sebelum masuk islam) menemui Raja Najasyi. Mereka
membawa banyak hadiah persembahan untuk sang raja, para pembantunya, dan juga
para pemuka Nasrani. Harapan mereka agar Raja Najasyi mau mengusir kaum Muslimin dari Habasyah. Sebelum mereka
memberikan hadiah kepada Raja Najasyi, mereka memberikan hadiah kepada orang
orang terdekat Raja Najasyi di istana. Merkea melakukanya semata-mata untuk
mencari dukungan ataupun bantuan untuk meminta Raja Najasyi mengusir kaum
muslimin.[18] Inilah merupakan sebuah diplomasi
yang dilakukan oleh Quraisy kepada Raja Najasyi.
Seusai
menyerahkan sejumlah hadiah, Amr berbicara kepada raja dan orang-orang
dekatnya, “Wahai Tuan Raja !, ada sejumlah orang bodoh yang menyusup ke negeri
Tuan. Mereka ini telah memecah belah agama kaumnya, juga tidak mau masuk ke
agama Tuan. Mereka datang dengan membawa agama baru. Kemudian orang orang
terdekat Raja Najasyi menyarankan agar menyerahkan Kaum Muhajirin kepada utusan
Quraisy, karena tergiur akan hadiah yang telah diberikan.[19]
Tetapi Raja
Najasyi tidak mau untuk menyerahkanya. Raja Najasyi ingin menanyakan kepada
Kaum Muhajirin perihal kata-kata yang disampaikan dua utusan Quraisy tersebut.
Sang Raja bertanya,[20]
“Seperti apa
gerangan agama kalian sehingga dikatakan memecah belah kaum kalian, dan kalian
juga tidak mau masuk ke agama kami, serta agama lain yang ada ?”
Ja’far
bin Abi Thalib yang menjadi juru bicara kaum Muslimin menjelaskan,
“Wahai
Paduka Raja !, dulu kami adalah orang-orang jahiliyah. Kami menyembah berhala,
memakan bangkai, berbuat mesum, memutus tali kekerabatan. Hingga Allah mengutus
seorang Rasul, yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah dan kesucian dirinya.
Beliau menyeru kami menuju Allah, mengesakan dan menyembah-Nya, meninggalkan
berhala (Ja’far menyebutkan ajaran-ajaran Islam lainya). Lalu kami percaya dan
beriman kepadanya, mengikuti apa pun yang beliau ajarkan. Kemudian kaum kami
memusuhi kami, menyiksa kami. Setelah mereka menekan, berbuat semena-mena,
mempersempit ruang gerak kami, dan menghalangi kami untuk mengamalkan ajaran
kami, akhirnya kami memilih untuk pergi ke negeri Tuan. Kami gembira mendapat
perlindungan Tuan dan kami berharap agar kami tidak diperlakukan secara dzalim
di sini, wahai Paduka Raja !”[21]
Raja
Najasyi bertanya,
“Apakah
kamu dapat menunjukkan kepada kami sesuatu yang dibawa Rasulullah SAW dari
Allah ?”
Ja’far
menjawab,
“Ya.”
Ja’far membacakan surat Maryam.
Mendengar
firman Allah itu, Raja Najasyi langsung menangis. Lantas Raja Najasyi berkata,
“Apa yang engkau baca dan apa yang dibawa oleh
Isa sesungguhnya bersumber dari pancaran sinar yang sama”.
Kemudian
Najasyi menoleh kepada kedua utusan Quraisy seraya berkata,
“Silahkan kalian berangkat pulang, demi Allah
mereka tidak akan kuserahkan kepada kalian.”
Kaum
Muslimin akhirnya menetap di negeri terbaik, di bawah perlindungan yang baik
pula. [22]
Ketika sampai informasi kepada kaum
Muslimin di Habasyah bahwa masyarakat Makkah telah memeluk Islam, maka
kembalilah beberapa orang diantaranya Utsman bin Ma’zhun ke Makkah, ternyata
berita itu bohong belaka. Kembalilah mereka menuju Habasyah, dan ini merupakan
hijrah yang kedua. [23]Hijrah
yang kedua ini diikuti sekitar 73 laki-laki dan 11 perempuan, diantara mereka
ada Ja’far bin Abi Thalib. Hijrah ini terjadi pada tahun ketujuh kenabian.[24]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Diplomasi
adalah suatu hubungan atau kerjasama yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan
atau kemudahan. Sementara suaka politik adalah mencari perlindungan di negara
lain, karena negaranya sendiri tidak aman atau dapat diartikan sebagai
perlindungan yang diberikan oleh suatu negara kepada orang asing yang terlibat
perkara politik di negara lain atau negara asal pemohon suaka.
Dakwah secara
terang-terangan yang dilakukan Rasulullah menmbuahkan hal positif, karena
semakin orang orang yang masuk islam semakin bertambah. Melihat perkembangan
Islam yang seperti ini, membuat Quraisy panik. Berbagai upaya dilancarkan oleh
Quraisy. Diantaranya melalui diplomasi, yakni dengan menawarkan penawaran yang
istimewa kepada Rasulullah agar menghentika dakwahnya.
Ketika dengan
cara diplomasi tidak berhasil, Quraisy mulai menggunakan kekerasaan. Hal ini
sangat meresahkan kaum Muslimin. Oleh karenanya, Rasulullah mengutus kaum Muslimin
untuk pergi ke Habasyah guna meminta perlindungan kepada Raja Najasyi yang
terkenal adil lagi bijaksana.
B.
SARAN
Sebagai kaum
Muslimin yang beriman hendaknya kita mengetahui bagaimana sejarah dari Nabi
kita. Mulai dari perjalanan hidupnya, perjuanganya, dan lain lain. Kaena dengan
mempelajari dan mengetahuinya tentu akan banyak sekali ibrah yang bisa kita
ambil dan kita terapkan dalam hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
Jabbar, Umar,خلاصة نوراليقين ,
Surabaya:مكتبة
السيخ سالم بن سعد نبهان, 2010
Al-Buthy,
Said Ramadhan, The Great Of Muhammad SAW, Jakarta Selatan:Noura
Books, 2015.
Al-Umuri,
Akram Dhiya’, Shahih Sirah Nabawiyah, Jakarta:Pustaka as-Sunnah, 2010.
Jabir, Syaikh Abu Bakar Al-Jaza’iri, Sirah Nabawiyah
VersiTadabbur:Mendulang Hikmah dari Perjalanan Hidup Nabi Muhammad SAW, Mesir
: Darus Salam, 2013.
Nurhakim,
Moh., Jatuhnya Sebuah Tamadun , Jakarta Pusat: Kementrian Agama Republik
Indonesia, 2012.
[3] Moh. Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun, cet I (Jakarta
Pusat: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012), hlm. 28
[4] Umar Abdul Jabbar, خلاصة
نوراليقين , Juz
I
(Surabaya:مكتبة السيخ
سالم بن سعد نبهان, 2010), hlm. 15
[5] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, Sirah Nabawiyah Versi
Tadabbur, (Mesir:Darus Salam, 2013), hlm 116
[9] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, Sirah Nabawiyah Versi
Tadabbur, (Mesir:Darus Salam, 2013) , hlm. 118
[11] Said Ramadhan Al-Buthy, The Great Of Muhammad SAW,cet. I (Jakarta
Selatan:Noura Books,2015) hlm. 50
[13] Said Ramadhan
Al-Buthy, The Great Of Muhammad SAW, hlm. 60
[14] Umar Abdul Jabbar, خلاصة
نوراليقين , Juz
I
(Surabaya:مكتبة السيخ
سالم بن سعد نبهان, 2010) hlm. 44
[19] Ibid.,
[21] Ibid.,
hlm. 140-141
[24] Umar Abdul Jabbar, خلاصة
نوراليقين , Juz
I
(Surabaya:مكتبة السيخ
سالم بن سعد نبهان, 2010) hlm. 49
No comments:
Post a Comment