Tuesday, September 10, 2019

DIPLOMASI DAN PENCARIAN SUAKA POLITIK KE HABASYAH



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Perintah Allah SWT kepada Rosululloh SAW untuk berdakwah secara terang – terangan menjadi sebuah cobaan atau tantangan bagi Rosululloh. Banyak dari Quraisy yang menentang ajakan Rosululloh untuk menyembah Allah SWT. Karena pada saat itu Quraisy sudah mempunyai sesembahan berupa berhala yang mereka buat sendiri. Mereka khawatir jika ajaran yang dibawa Rosululloh SAW merusak tradisi nenek moyang mereka. Berbagai upaya terus dilakukan oleh Quraisyi, diantarnya dengan menggunakan cara diplomasi.
Berbagai ancaman, siksaan, olokan terus menimpa kaum muslimin. Keadaan yang terus demikian membuat Rosululloh berfikir untuk mencari tempat yang aman untuk mempertahankan ajaran yang dibawannya. Akhirnya Rosululloh SAW memilih salah satu negara di benua Afrika, yakni Habasyah. Rasulullah meminta kaum Muslimin untuk berhijrah ke Habasyah untuk mencari perlindungan. Lantas apakah Raja Habasyah menerima permintaan dari kaum Muslimin atau tidak, serta diplomasi seperti apa yang dilakukan Quraisy untuk menghentikan dakwah Nabi SAW, akan kami jelaskan dalam makalah ini.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana pengertian Diplomasi dan Suaka Politik ?
2.      Bagaimana diplomasi yang dilakukan Kaum Quraisy ?
3.      Bagaimana proses pencarian suaka politik ke Habasyah ?
C.    TUJUAN
1.      Mengetahui pengertian Diplomasi dan Suaka Politik.
2.      Mengetahui diplomasi yang dilakukan Kaum Quraisy.
3.      Mengetahui proses Pencarian Suaka Politik ke Habasyah.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Diplomasi dan Suaka Politik
Diplomasi adalah seni dan praktik bernegoisasi oleh seseorang (diplomat) yang biasanya langsung terikat dengan diplomasi internasional yang biasanya mengurus berbagai hal, seperti budaya, ekonomi, dan perdagangan. Biasanya, orang menganggap diplomasi sebagai cara mendapatkan keuntungan dengan kata-kata yang halus.[1] Jadi diplomasi adalah suatu hubungan atau kerjasama yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan atau kemudahan.
Suaka politik adalah perlindungan politik yang dapat diminta suatu negara kepada negara lain. Permintaan perlindungan ini diajukan karena seseorang merasakan adanya tekanan-tekanan politik yang dapat mengurangi kebebasan politiknya.[2] Jadi suaka politik adalah mencari perlindungan di negara lain, karena negaranya sendiri tidak aman.
B.     Diplomasi Quraisy
Dakwah Rasulullah pertama kali kepada bangsa Quraisy di Makkah adalah mengenalkan Allah Yang Maha Esa (ketauhidan). Allah adalah pencipta alam semesta, pemberi kehidupan dan kematian, pemberi rizki dan lain-lain. Harapan Rasulullah dengan menanamkan tauhid yang benar akan membawa perubahan yang mendasar bagi bangsa Quraisy.[3]
Kemudian Rasulullah menyampaikan ajaran Islam kepada keluarga terdekatnya secara diam-diam.  Hingga ada beberapa orang yang menerima ajaran Rasulullah Saw, diantaranya adalah dari golongan perempuan adalah Siti Khadijah dan dari golongan laki laki adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq serta dari golongan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib.[4] Mereka mengetahui kebenaran akan kerasulan Muhammad dari kitab-kitab suci terdahulu.
Seiring Hamzah dan Umar masuk Islam, dakwah memasuki fase baru. Rasulullah SAW berdakwah secara terang-terangan, hingga situasi ini membuat kaum Musyrikin takut, lantaran jumlah kaum Muslimin semakin bertambah.[5] Berbagai upaya terus dilakukan kaum Quraisy untuk menghentikan dakwah Rasulullah. Diantaranya adalah dengan melakukan diplomasi. Seperti halnya yang dilakukan ‘Utbah yang mendatangi Rasulullah seraya berkata,
“Wahai keponakanku !, anda adalah seorang dari lingkungan kami, dan anda telah mengetahui kedudukan silsilah kami (yang dipandang terhormat oleh semua orang Arab). Namun ternyata anda telah membawa suatu persoalan yang amat gawat kepada kaum kerabat anda, anda telah memecah-belah kerukunan dan persatuan mereka. Sekarang dengarkanlah baik-baik, saya hendak menawarkan kepada anda beberapa hal yang mungkin dapat anda terima salah satu diantaranya.”[6]
Rasulullah SAW menjawab,
“Katakanlah, hai Abu Walid, apa yang hendak kamu tawarkan ?”
Utbah bin Rabi’ah berkata,
“Wahai keponakanku, jika dengan dakwah yang anda lakukan itu anda ingin mendapatkan harta kekayaan, maka akan kami kumpulkan harta kekayaan yang ada pada kami untuk anda, sehingga anda menjadi orang yang terkaya di kalangan kami. Jika anda menginginkan kehormatan dan kemuliaan, anda akan kami angkat sebagai pemimpin, dan kami tidak akan memutuskan suatu persoalan apa pun tanpa persetujuan anda. Jika anda ingin menjadi raja, kami bersedia menobatkan anda sebagai raja kami. Jika anda tidak sanggup menangkal jin yang merasuk ke dalam jiwa anda, kami bersedia mencari tabib yang sanggup menangkalnya, dan kami tidak menghitung biaya yang diperlukan sampai anda sembuh.”[7]
Rasulullah SAW bertanya kepada ‘Utbah,
“Sudah selesaikan anda wahai Abu Walid ?”
“Sudah”, jawab ‘Utbah
“Sekarang dengarkanlah dariku”, kata Nabi Muhammad SAW
Kemudian Nabi Muhammad SAW membaca ayat 13 dari Surat Fushsilat,
“Jika mereka berpaling maka katakanlah, Kalian telah kuperingatkan (mengenai datangnya) petir yang menghancurkan kaum ‘Aad dan  Tsamud (dahulu).”
‘Utbah menutup mulut Nabi SAW dengan tanganya memohon supaya berhenti membacanya karena takut ancaman yang terkandung di dalam ayat tersebut. Kemudian Utbah kembali kepada kaumnya yang sudah menantinya.[8] Mereka bertanya,
“Bagaimana hasilnya wahai Abu al-Walid ?”
Utbah menjawab,
“Aku mendengar perkataan yang belum pernah aku dengar sama sekali,perkataan itu bukan syair, bukan sihir, dan bukan pula mantera dukun. Wahai kaum Quraisy, taatilah aku, dan biarkan Muhammad dengan urusanya. Perkataan yang kudengar tadi benar-benar akan menjadi berita besar. Jika bangsa Arab mau menerimanya, maka dengan kehadiranya, kalian tidak akan lagi memerlukan bangsa lain. Jika ia dapat menguasai bangsa Arab, kerajaanya akan menjadi kerajaan kalian pula, begitu juga dengan kemulianya. Jadilah manusia-manusia paling berbahagia dengan keberadaanya.”[9]
Orang-orang Quraisy berkata,
“Dia telah menyihirmu dengan lisanya, wahai Abu Walid.”
Utbah menyampaikan,
“Inilah pendapatku tentang dia. Untuk kalian, silahkan semau kalian.”[10]
Thabari dan Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa beberapa orang musyrik, termasuk Walid bin Mughira dan al-Ash bin Wa’il, datang menemui Rasulullah SAW menawarkan harta kekayaan dan gadis tercantik kepadanya, dengan syarat beliau bersedia meninggalkan kecaman terhadap tuhan-tuhan mereka.[11] Ketika Nabi SAW menolak tawaran tersebut, mereka menawarkan
“Bagaimana jika anda menyembah tuhan-tuhan kami sehari, dan kami menyembah tuhanmu sehari (bergantian) ?”
Tawaran ini juga ditolak oleh Nabi SAW. Berkenaan dengan hal ini Allah menurunkan firman-Nya yakni Surat Al-Kafirun.[12]

C.    Pencarian Suaka Politik ke Habsyah
Pencarian suaka politik ini didasarkan atas gangguan, siksaan, dan juga kekerasan dari kaum Quraisy yang tidak berhasil menghentikan dakwah Rasulullah SAW. Melihat kondisi tersebut, maka Rasulullah SAW berkhutbah ;
“Pergilah kalian ke tanah Habasyah, karena di sana ada seorang raja yang tak seorang pun didzalimi, sampai Allah memberi kalian jalan keluar dari kesulitan yang kalian hadapi.”[13]
Berangkatlah sebagian kaum Muslimin ke Habasyah dengan menaiki perahu[14] yang disewa seharga setengah dinar.[15]  Inilah hijrah pertama dalam sejarah Islam. Banyaknya kaum Muslimin yang berhijrah adalah sepuluh orang laki-laki dan lima orang perempuan, yang diantaranya adalah Sayyidina Utsman bin Affan RA beserta istrinya Ruqayyah binti Rasulullah SAW, Abu Hudzaifah bin Ansabah bin Rabi’ah bersama istrinya Sahlah binti Suhail, dan Zubair bin Awwam.[16]  Hijrah ini terjadi pada bulan ketujuh tahun kelima kenabian .[17]
Melihat hijrahnya kaum Muslimin ke Habsyah, kaum Quraisy segera mengutus Abdullah bin Abu Rabi’ah dan Amr bin Ash (sebelum masuk islam) menemui Raja Najasyi. Mereka membawa banyak hadiah persembahan untuk sang raja, para pembantunya, dan juga para pemuka Nasrani. Harapan mereka agar Raja Najasyi mau mengusir kaum  Muslimin dari Habasyah. Sebelum mereka memberikan hadiah kepada Raja Najasyi, mereka memberikan hadiah kepada orang orang terdekat Raja Najasyi di istana. Merkea melakukanya semata-mata untuk mencari dukungan ataupun bantuan untuk meminta Raja Najasyi mengusir kaum muslimin.[18] Inilah merupakan sebuah diplomasi yang dilakukan oleh Quraisy kepada Raja Najasyi.
Seusai menyerahkan sejumlah hadiah, Amr berbicara kepada raja dan orang-orang dekatnya, “Wahai Tuan Raja !, ada sejumlah orang bodoh yang menyusup ke negeri Tuan. Mereka ini telah memecah belah agama kaumnya, juga tidak mau masuk ke agama Tuan. Mereka datang dengan membawa agama baru. Kemudian orang orang terdekat Raja Najasyi menyarankan agar menyerahkan Kaum Muhajirin kepada utusan Quraisy, karena tergiur akan hadiah yang telah diberikan.[19]
Tetapi Raja Najasyi tidak mau untuk menyerahkanya. Raja Najasyi ingin menanyakan kepada Kaum Muhajirin perihal kata-kata yang disampaikan dua utusan Quraisy tersebut. Sang Raja bertanya,[20]
“Seperti apa gerangan agama kalian sehingga dikatakan memecah belah kaum kalian, dan kalian juga tidak mau masuk ke agama kami, serta agama lain yang ada ?”
Ja’far bin Abi Thalib yang menjadi juru bicara kaum Muslimin menjelaskan,
“Wahai Paduka Raja !, dulu kami adalah orang-orang jahiliyah. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat mesum, memutus tali kekerabatan. Hingga Allah mengutus seorang Rasul, yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah dan kesucian dirinya. Beliau menyeru kami menuju Allah, mengesakan dan menyembah-Nya, meninggalkan berhala (Ja’far menyebutkan ajaran-ajaran Islam lainya). Lalu kami percaya dan beriman kepadanya, mengikuti apa pun yang beliau ajarkan. Kemudian kaum kami memusuhi kami, menyiksa kami. Setelah mereka menekan, berbuat semena-mena, mempersempit ruang gerak kami, dan menghalangi kami untuk mengamalkan ajaran kami, akhirnya kami memilih untuk pergi ke negeri Tuan. Kami gembira mendapat perlindungan Tuan dan kami berharap agar kami tidak diperlakukan secara dzalim di sini, wahai Paduka Raja !”[21]
Raja Najasyi bertanya,
“Apakah kamu dapat menunjukkan kepada kami sesuatu yang dibawa Rasulullah SAW dari Allah ?”
Ja’far menjawab,
“Ya.” Ja’far membacakan surat Maryam.
Mendengar firman Allah itu, Raja Najasyi langsung menangis. Lantas Raja Najasyi berkata,
 “Apa yang engkau baca dan apa yang dibawa oleh Isa sesungguhnya bersumber dari pancaran sinar yang sama”.
Kemudian Najasyi menoleh kepada kedua utusan Quraisy seraya berkata,
 “Silahkan kalian berangkat pulang, demi Allah mereka tidak akan kuserahkan kepada kalian.”
Kaum Muslimin akhirnya menetap di negeri terbaik, di bawah perlindungan yang baik pula. [22]
Ketika sampai informasi kepada kaum Muslimin di Habasyah bahwa masyarakat Makkah telah memeluk Islam, maka kembalilah beberapa orang diantaranya Utsman bin Ma’zhun ke Makkah, ternyata berita itu bohong belaka. Kembalilah mereka menuju Habasyah, dan ini merupakan hijrah yang kedua. [23]Hijrah yang kedua ini diikuti sekitar 73 laki-laki dan 11 perempuan, diantara mereka ada Ja’far bin Abi Thalib. Hijrah ini terjadi pada tahun ketujuh kenabian.[24]



























BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Diplomasi adalah suatu hubungan atau kerjasama yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan atau kemudahan. Sementara suaka politik adalah mencari perlindungan di negara lain, karena negaranya sendiri tidak aman atau dapat diartikan sebagai perlindungan yang diberikan oleh suatu negara kepada orang asing yang terlibat perkara politik di negara lain atau negara asal pemohon suaka.
Dakwah secara terang-terangan yang dilakukan Rasulullah menmbuahkan hal positif, karena semakin orang orang yang masuk islam semakin bertambah. Melihat perkembangan Islam yang seperti ini, membuat Quraisy panik. Berbagai upaya dilancarkan oleh Quraisy. Diantaranya melalui diplomasi, yakni dengan menawarkan penawaran yang istimewa kepada Rasulullah agar menghentika dakwahnya.
Ketika dengan cara diplomasi tidak berhasil, Quraisy mulai menggunakan kekerasaan. Hal ini sangat meresahkan kaum Muslimin. Oleh karenanya, Rasulullah mengutus kaum Muslimin untuk pergi ke Habasyah guna meminta perlindungan kepada Raja Najasyi yang terkenal adil lagi bijaksana.
B.     SARAN
Sebagai kaum Muslimin yang beriman hendaknya kita mengetahui bagaimana sejarah dari Nabi kita. Mulai dari perjalanan hidupnya, perjuanganya, dan lain lain. Kaena dengan mempelajari dan mengetahuinya tentu akan banyak sekali ibrah yang bisa kita ambil dan kita terapkan dalam hidup.





DAFTAR PUSTAKA

Abdul Jabbar, Umar,خلاصة نوراليقين  , Surabaya:مكتبة السيخ سالم بن سعد نبهان, 2010
Al-Buthy, Said Ramadhan, The Great Of Muhammad SAW, Jakarta Selatan:Noura Books, 2015.
Al-Umuri, Akram Dhiya’, Shahih Sirah Nabawiyah, Jakarta:Pustaka as-Sunnah, 2010.
Jabir, Syaikh Abu Bakar Al-Jaza’iri, Sirah Nabawiyah VersiTadabbur:Mendulang Hikmah dari Perjalanan Hidup Nabi Muhammad SAW, Mesir : Darus Salam, 2013.
Nurhakim, Moh., Jatuhnya Sebuah Tamadun , Jakarta Pusat: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012.





[3] Moh. Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun, cet I (Jakarta Pusat: Kementrian Agama Republik Indonesia, 2012), hlm. 28
[4] Umar Abdul Jabbar, خلاصة نوراليقين , Juz I (Surabaya:مكتبة السيخ سالم بن سعد نبهان, 2010), hlm. 15
[5] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, Sirah Nabawiyah Versi Tadabbur, (Mesir:Darus Salam, 2013), hlm 116
[6] Ibid., hlm 117
[7] Ibid.,
[8] Ibid.,
[9] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, Sirah Nabawiyah Versi Tadabbur, (Mesir:Darus Salam, 2013) , hlm. 118
[10] Ibid,.
[11] Said Ramadhan Al-Buthy, The Great Of Muhammad SAW,cet. I (Jakarta Selatan:Noura Books,2015) hlm. 50
[12] Ibid.,
[13] Said Ramadhan Al-Buthy, The Great Of Muhammad SAW, hlm. 60
[14] Umar Abdul Jabbar, خلاصة نوراليقين , Juz I (Surabaya:مكتبة السيخ سالم بن سعد نبهان, 2010) hlm. 44
[15] Akram Dhiya’ Al-Umuri, Shahih Sirah Nabawiyah, (Jakarta:Pustaka as-Sunnah, 2010), hlm. 173
[16] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, Sirah Nabawiyah Versi Tadabbur, hlm. 136
[17] Umar Abdul Jabbar, خلاصة نوراليقين , hlm. 44
[18] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, hlm. 140
[19] Ibid.,
[20]Ibid.,
[21] Ibid., hlm. 140-141
[22] Ibid.,
[23] Akram Dhiya’ Al-Umuri, Shahih Sirah Nabawiyah, hlm. 175
[24] Umar Abdul Jabbar, خلاصة نوراليقين , Juz I (Surabaya:مكتبة السيخ سالم بن سعد نبهان, 2010) hlm. 49

No comments:

Post a Comment