Monday, September 9, 2019

PENCIPTAAN MANUSIA DALAM AL-QUR'AN DAN SAINS

PENCIPTAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN DAN SAINS
Oleh :
Ahmad Minannurohman 

A.    Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah yang dianugrahi akal untuk berfikir. Atas anugrah tersebut, manusia tidak bisa dikatakan termasuk ke dalam golongan hewan yang pada dasarnya tidak mempunyai akal. Secara komposisi tentu manusia lebih tinggi derajatnya daripada hewan. Akan tetapi, derajat manusia akan bernilai sama dengan hewan ketika anugrah tersebut tidak dipergunakan dengan baik. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-A’raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang orang yang lalai.
Manusia muncul bukan secara serta merta, melainkan diciptakan oleh Allah melalui beberapa tahapan. Al-Qur’an telah menerangkan beberapa ayat yang memberikan petunjuk mengenai asal-usul munculnya manusia. Berikut ini beberapa ayat Al-Qur’an yang menerangkan asal-usul munculnya manusia :
1.      Penciptaan Adam
Manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT adalah Adam dengan berawal dari tanah yang diciptakan dengan sebaik-baiknya. Firman Allah SWT:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
Artinya : 72:“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (Q.S. Al-Shaad : 71).
Berpijak pada ayat tersebut, maka dapat diketahui bahwa Allah menciptakan Adam dengan tiga unsur yang saling berkaitan, yakni :
a.       Unsur Tanah
Tanah adalah tempat tumbuh dan berkembangnya manusia, dan dari unsur bumi pula Allah Swt menciptakan manusia, di bumi manusia hidup, ke dalam tanah manusia akan kembali bila ajalnya sudah tiba nanti, dan dari tanah pula manusia akan dibangkitkan untuk mempertanggung jawabkan semua yang telah ia lakukan selama hidup di dunia.[1] Tetapi ada sebagian manusia masih ragu terhadap hari kebangkitan tersbut. Allah Swt berfirman "Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya), Kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu)"
b.      Unsur Pembentukan dan Penyempurnaan
Allah Swt menyempurnakan dan membentuk wujud manusia Sehingga terlihat sangat sempurna sehingga terlihat indah dan sangat jauh berbeda dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain yang telah di ciptakan oleh Allah Swt, serta Allah member rizki untuk kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Allah berfiman dalam surat Al-Mu`min ayat 64:"
اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ


“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam".
c.       Unsur Peniupan Ruh
Setelah tahapan selesai pembentukan manusia, Allah Swt meniupkan ruh dalam tubuh manusia agar bisa hidup dan berfungsi sebagai makhluk-Nya, sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat Al-Sajadah ayat 9:
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
"Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur".
2.      Penciptaan Hawa
Manusia kedua setelah Adam yang diciptakan oleh Allah adalah Hawa. Hawa diciptakan oleh Allah melalui tulang rusuk Adam. Firman Allah SWT:
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Artinya : “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah Dia merasa ringan (Beberapa waktu). kemudian tatkala Dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi Kami anak yang saleh, tentulah Kami terraasuk orang-orang yang bersyukur.(Q.S. An-Nisa : 11).
“…dari padanya Allah menciptakan istri‟, menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam, dengan berdasar kepada hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Akan tetapi, ada pula yang menafsirkan “dari padanya” adalah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam  diciptakan.[2]
Sebagian para penafsir kontemporer seperti dari kalangan feminisme
menafsirkan kata “nafsin wahidah” dengan jenis yang sama dengan penciptaan Adam. Jika Adam diciptakan dari tanah, berarti Siti Hawa juga diciptakan dari tanah. Hadits Bukhori Muslim di atas menurut mereka sanadnya tergolong lemah. Muhammad Rasyid Ridha dalam bukunya “al-Manar” menegaskan bahwa mufassir yang mengatakan bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk adam dipengaruhi oleh penjelasan dalam perjanjian lama (bibel). Dalam Kitab Bibel (Genesis 1:26-27; Imamat 2 : 7 dan 5; Yahwis 2: 18-24 terdapat uraian khusus tentang penciptaan Adam dan Eve (Hawa).
Terlepas berasal dari apa Hawa diciptakan, yang jelas tujuan Siti Hawa diciptakan adalah sebagai pasangan dan pendamping Adam. Bukan berarti Adam manusia pertama lalu lebih mulia dari Hawa. Keduanya mempunyai kedudukan yang sama mulia di mata Allah SWT. Allah SWT menyebut laki-laki dan perempuan dalam Al-Qur’an dalam jumlah yang berimbang. Laki-laki sebanyak 83 kali dan perempuan sebanyak 84 kali.[3]
3.      Penciptaan Isa
Isa adalah manusia yang diciptakan oleh Allah melalui seorang Ibu dengan proses kehamilan. Namun kehamilan tersebut tanpa melibatkan hubungan biologis/tanpa ayah. Firman Allah Swt.
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Artinya : Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia. (Q.S. Al Imran : 59)
Ayat tersebut menunjukkan akan kekuasaan Allah dalam menciptakan Isa tanpa adanya seorang ayah, sama halnya dengan penciptaan Adam yang tanpa ayah, bahkan justru tanpa ibu. Allah menciptakan Adam dari tanah dengan berfirman kepadanya “kun fayakun”, maka jadilah ia. Hal tersebut merupakan bukti kekuasaan Allah yang mampu menciptakan Adam tanpa melalui laki-laki maupun wanita, menciptakan Hawa melalui laki-laki tanpa wanita, dan menciptakan Isa melalu wanita tanpa laki-laki. Wallahu a’lam.
4.      Penciptaan Bani Adam (Manusia Secara Umum)
Proses penciptaan manusia secara umum (melalui proses kehamilan/hubungan biologis) telah dijelaskan di dalam al-Qur’an pada Surah Al-Mu’minun ayat 12-14 yang berbunyi:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Artinya : Artinya : 12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Dalam ayat tersebut dapat diketahui bahwa manusia diciptakan tidak secara sekaligus, melainkan melalui beberapa tahapan, yakni :
a.       Fase Sulalah min Tin
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”
Menurut Ṭanṭawi Jauhari, manusia memakan buah-buahan , biji-bijian dan daging dan dari itulah yang menjadi darah dan di antaranya menjadi air mani yang kemudian melahirkan keturunan manusia Pendapat Thāhir ibn Asyur yang dikutip oleh M. Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah mengatakan bahwa, saripati dari tanah itu adalah apa yang diproduksi oleh alat pencernaan dari bahan makanan yang kemudian menjadi darah, yang kemudian berproses hingga akhirnya menjadi sperma ketika terjadi hubungan seks. Inilah yang dimaksud dengan saripati tanah karena ia berasal dari makanan manusia baik tumbuhan maupun hewan yang bersumber dari tanah.

b.      Fase Nutfah
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim).”
Ibnu Katsir memberikan penafsiran bahwa nutfah (air mani) yaitu air memancar yang keluar dari tulang punggung laki-laki dan tulang dada perempuan yang terletak di antara tulang selangka dan tulang di bawah payudara.[4] Hal ini sebagaimana dengan firman Allah dalam Q.S. al-Ṭariq/ 86: 5-8 :
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ   (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6)يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7) إِنَّهُ عَلَىٰ رَجْعِهِ لَقَادِرٌ (8)
Artinya : “Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan ? Dia diciptakan dari air yang dipancarkan. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.
Pada dasarnya nutfahdibagi menjadi 3 macam, diantaranya:
1.      Nutfah Laki-laki
Dalam surat al-Qiyamah ayat 37-39 telah dijelaskan bahwa ‚manusia
dahulu berasal dari mani yang ditumpahkan (kedalam rahim) kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan.
أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ (37) ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ (38) فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ (39)

(37). Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). (38). Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, (39). lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki dan perempuan.
2.      Nutfah Perempuan
Di dalam al-Qur’an nutfah wanita sendiri tidak disebutkan secara jelas. Namun nutfah tersebut dapat disimpulkan dari nutfah amsaj yang merupakan campuran antara nutfah laki-laki dan wanita. Akan tetapi nutfah tersebut secara jelas disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad berikut :
Hai orang-orang Yahudi, manusia diciptakan dari mani laki-laki dan perempuan, mani laki-laki kental dan dari situlah terbentuk tulang dan otot, sedangkan mani perempuan encer dan akan membentuk daging dan darah"15 (HR Ahmad)
Nutfah laki-laki dan perempuan sama-sama dipancarkan. Dan dari nutfah inilah Allah menciptakan anggota-anggota yang berbeda, perilaku yang berbeda serta menentukan pria dan perempuan. Dari nutfah pria akan terbentuk syaraf, tulang dan otot, sedangkan dari nutfah perempuan akan terbentuk darah dan daging.
3.      Nutfah Amsaj
Dalam surat al-Insan ayat 2 telah dijelaskan bahwa, ‚sesungguhnya
manusia diciptakan dari setetes mani yang dicampur Nutfah Amsaj)
c.       Fase ‘Alaqah
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah.”
Sayyid Quṭub dalam tafsiranya mengatakan bahwa setelah sel mani laki-laki bertemu dengan sel telur wanita, kemudian ia menggantung dalam rahim sebagai titik yang kecil pada awalnya yang mengambil sari makanan dari darah ibunya. Penjelasan ini sesuai dengan proses penempelan janin pada selaput lendir selama minggu kedua. Selain itu, kata ‘alaqah juga diacu pada darah secara umum, darah yang sangat merah dan darah yang beku.[5]
d.      Fase Mudgah
فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً
“Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.”
Ibnu Katsir dalam tafsirnya memberikan penjelasan bahwa “muḍgah” adalah sepotong daging yang tidak memiliki bentuk dan tidak bergaris-garis.[6] M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa muḍgah adalah sesuatu yang kadarnya kecil sehingga dapat dikunyah. Mustafa al-Maragi berpendapat bahwa masa perkembangan darah beku dalam kehidupan janin mencapai 4 minggu, kemudian berkembang menjadi muḍgah (sepotong daging) karena serupa benar dengan sepotong daging yang bisa dimamah dan masa perkembangannya mencapai tiga sampai sepuluh minggu.
e.       Fase ‘Idzam
فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا
“Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang.”
Ibnu Katsir dalam kitabnya menjelaskan bahwa pada fase ‘iẓam, segumpal daging itu dibentuk menjadi sosok yang memiliki kepala, kedua belah tangan, mempunyai dua buah kaki, lengkap dengan tulang-tulangnya, urat-urat syarafnya dan otot-ototnya.[7]
Penciptaan tulang janin dimulai dari unsur tulang yang ada dalam model selaput atau tulang rawan yang secara bertahap berubah menjadi tulang belulang. Pada saat yang sama, proses pembentukan tulang dimulai dari unsur yang terbatas, kemudian ia naik di dalam lingkaran-lingkaran yang memutar sehingga fungsi masing-masing menjadi sempurna.

f.       Fase Fakasaunal ‘Idzama Lahman
فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا
“Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.”
Ibnu Katsir menjelaskan fase laḥman, ”kemudian Kami jadikan pada tulang-belulang itu sesuatu yang menutupi, membungkus dan menguatkannya.”[8]  Sayid Qutub juga menjelaskan fase ini bahwa di sini manusia dibuat terpana di hadapan pengungkapan al-Qur’an tentang hakikat penciptaan janin, yang sebelumnya belum diketahui secara jelas melainkan setelah tercapai kemajuan ilmu tentang janin lewat sinar X dan pembedahan.[9]
Telah ditetapkan bahwa sel-sel tulang itu adalah yang terbentuk pada awalnya dalam janin. Dan, tidak tampak satu pun sel daging kecuali setelah timbulnya sel-sel tulang dan setelah sempurna kerangka tulang pada janin. Hakikat inilah yang direkam oleh al-Qu’an “Segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging.

g.      Fase Khalqan Akhar
ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ
“Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.”
Sayyid Qutub menafsirkan bahwa makhluk yang berbentuk lain itu adalah manusia yang memiliki karakter-karakter yang istimewa. Janin manusia mirip dengan janin hewan dalam pertumbuhan jasmaninya. Namun, janin manusia dijadikan makhluk yang berbentuk lain. Kemudian beralih kepada bentuk penciptaan yang istimewa itu, yang siap untuk tumbuh. Sedangkan, janin hewan tetap pada tingkat hewan, kosong dari karakter-karakter kesempurnaan dan pertumbuhan yang dimiliki oleh janin manusia.[10]
M. Quraish Shihab juga berpendapat sejalan dengan pendapat Sayyid Qutub mengatakan bahwa makhluk lain mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang dianugerahkan kepada makhluk yang dibicarakan ini yang menjadikan ia berbeda dengan makhluk-makhluk lain.
Sementara itu mengenai jarak waktu antar fase tersebut dapat dilihat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah Ibnu Mas’ud dia bercerita, Rasulullah Saw. memberitahu kami, yang beliau adalah orang yang selalu jujur dan dibenarkan:
Artinya : Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaanya di dalam perut (Rahim) ibunya selama 40 hari berupa nuthfah (air mani), kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari), lalu menjadi gumpalan sekerat daging, selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya Malaikat, maka ia (Malaikat) meniupkan ruh padanya dan Malaikat itu diperintahkan untuk (menulis) empat perkara; rizkunya, ajalnya, amal perbuatanya, dan (apakah dia) sengsara atau bahagia. Demi Allah tiada yang Ilah (yang haq) selain Dia, sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan mengerjakan amalan penghuni surga sehingga (jarak) antara dirinya dengan surga hanya satu hasta saja, namun dia didahului oleh ketetapan (takdir) Allah sehingga dia mengerjakan perbuatan penghuni neraka, hingga akhirnya dia masuk neraka.  Dan sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan mengerjakan perbuatan penghuni neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal satu hasta saja, namun ketetapan (takdir) Allah mendahuluinya sehingga dia mengerjakan amal perbuatan surga, hingga akhirnya dia masuk surga. (H.R. Bukhari Muslim).[11]
B.     Proses Penciptaan Manusia dalam Sains (Teori Evolusi Darwin)
Secara aqal manusia atau secara sains (pengetahuam manusia) setidaklanya ada dua kaum atau kelompok yang menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, yaitu kaum evolusi dan kelompok Teori finalisma. Berikut ini penciptaan manusia menrut kedua teori tersebut [12]:
1.      Kelompok Teori Evolusi
Sidi Gazalba di dalam bukunya Ilmu, Filsafat dan Islam Tentang Manusia dan Agama, menyebutkan bahwa pertanyaan-pertanyaan di atas secara aqal manusia dijawab oleh teori desedensi (keturunan) atau teori evolusi (Sidi Gazalba, 1978). Teori evolsi memiliki anggapan bahwa jenis-jenis hewan dan tumbuhan yang ada sekarang tidak lahir menurut ujudnya seperti sekarang ini. Berdasarksn teori evolusi semua manusia berasal dari bangsa yang lebih rendah, yakni hewan. Yang pertama kali mengeluarkan teori ini adalah Lamarck (1744-1829), seorang ahli ilmu hayat yang sangat terkenal dari Perancis. Lamarck mengemukakan teori evolusi ini baru bersifat pemikiran (spekulatif).
Toeri evolusi Lamarck oleh Darwin (1809-1882) seorang ahli ilmu hayat dari Inggris, dijadikannya Ilmiah dengan memberikan dasar data-data. Darwin beranggapan bahwa tiap jenis makhluk tumbuhan dan hewan berasal dari jenis yang paling rendah. Jenis yang paling rendah yakni yang awal sekali ialah amuba atau mahkluk satu sel. Jenis yang paling tinggi atau akhir sekali adalah manusia. Dalam sejarah dunia tumbuhan dan hewan, kirakira dua milyard tahun sampai sekarang. Semenjak akhluk satu sel yang timbul di laut sampai sekarang, berlangsung evolusi atau perubahandari satu jenis melalui jenis antara kepada jenis lain.
Kalau manusia terjadi dari hasil evolusi hayat, tentu ia berasal dari jenis yang lebih rendah. Dan anggapan teori evolusi Manusia berasal dari makhluk yang lebih rendah yaitu hewan. Manusia menurut teori ilmu merupakan hasil evolusi organik, hasil perkembangan organisme dari yang paling bersahaja samapai pada hewan tingkat tinggi (bangsa antropoide) dan akhirnya jenis manusia. Jenis-jenis yang lahir dalam proses evolusi dari bangsa hewan menjadi manusia, antara lain:
1.      Makhluk yang paling tua yang bertuknya mirip atau lebih hampir sama dengan manusia, diistilahka Australopithecus, Kera Australia, fosilnya (Sidi Gazalba, 1978) diperkirakan berumur 500-600 tahun.
2.      Pithecanthropus Erectus, Manusia-Kera berdiri tegak, yang fosilnya berumur sekitar 400 ribu tahun.
3.      Homo Neabderthalensis, Manusia Neanderthal, yang fosilnya berumur kira-kira 100 ribu tahun.
Fosil ialah bekas atau peninggalan jasad manusia dan hewan secara utuh atau bagianbagiannya yang terbentuk oleh proses kimia dalam lapisan kulit bumi. Berdasarkan cacatan fosil yang muncul kira-kira 35.000 tahun yang lalu, Manusia tergolong Homo sapiens atau Manusia budiawan( Supan Kusumamiharja, 1976).
2.      Kelompok Finalisma
Kelompok Finalisma membela teori yang dikeluarkan oleh kaum evolusi. Menurut kelompok Finalisma kalaulah dalam dua milyar tahun terakhir sejarah bumi, berlangsung evolusi dunia hewan, dengan teratur, yang 350 abad yang lewat berujung pada jenis manusia budiawan, tentu wajar kalau kita menduga bahwa di masa yang akan datang akan lahir jenis baru yang berbeda sekali dari jenis manusia yang sekarang.
Kelompok Finalisma mendasarkan pendapat mereka pada terhentinya pertambahan volume otak pada manusia kini. Pertambahan volume dan penyempurnaan otak ada hubungannya dengan perkembangan kecerdasan. Australopithecus memiliki volume otak 450 cm3. Dalam evolusi 400-500 ribu tahun terjadi pertambahan 1000 cm3, sehingga Homo Neabderthalensis mencapai volume otak 1,450 cm3. Dan anehnya volume itu bertahan tetap, tidak bertambah lagi sampai dengan manusia modern sekarang ini. Hal ini tentunya berlawanan dengan hukum teori evolusi. Dengan terhentinya evolusi organ tubuh manusia yang amat penting dalam diri manusia, maka terhentilah pula evolusi pada jenis manusia. Tujuan evolusi menurut kaum finalisma, ialah untuk mewujudkan manusia, atau pada manusialah finalnya (berakhirnya) proses evolusi.
Sejalan dengan perkembangn ilmu pengetahuan teori evolusi makin lama makin nyata kelemahannya. Kelemahan yang banyak diperdebatkan ialah tentang “missing link”, yakni putusnya hubungan atau tidak ditemukannya jenis antara dari bangsa hewan kepada jenis manusia. Pokok-pokok teori Darwin telah dibatalkan oleh penemuan-penemuan ilmiah sesudah dia. Yang bertahan dari teosi ini adlah hanya garis besarnya saja.
Teori evolusi berpijak atas data-data fosil yang ditemukan dalam lapisan tanah bumi. Bila teori evolusi itu benar maka lapisan-lapisan baru harus menyimpan catatan-catatan yang lengkap tentang perkembangan hidup sepanjang waktu geologis. Dan catatan tersebut harus mengndung data bertahap yang kontinue tentang evolusi hidup, misalnya dari amuba sampai manusia. Ternyata apa yang diharapkan itu tidak terbukti malah sebaliknya yang ditemukan.
Kenyataan itulah yang membingungkan Darwin sendiri, seperti katanya:“.... secara keseluruhannya data geologis itu terlalu tidak lengkap. Sedangkan bila kita pusatkan perhatian kita hanya kepada satu lapisan saja, maka lebih menyulitkan lagi: misalnya mengapa kita tidak menemukan di dalamnya perbedaan-perbedaan bertahap antara species yang dekat yang hidup dalam lapisan tersebut”. (The Origin of Species 1872, Bab X)
Dalam tullisannya di atas Darwin sebenarnya masih ragu-ragu terhadap teori evolusi yang telah ia buat. Keragu-raguannya itu sangatlah wajar jika kita bandingkan dengan keteraturan yang ada di alam semesta. Gerak dan peristiwa di alam sangatlah tertur. Perkembangan ilmu berhasil menemukan hukum alam. Hukum alam adalah hubungan sebab-akibat, peristiwa alam yang serba tetap dan pasti, misalnya tiap-tiap air yang didinginkan 0 derajat pasti akan mengembang dan membeku. Ilmu-ilmu eksakta dan teknologi mengalami kemajuan yang luar biasa dewasa ini akibat dari adanya keteraturan dan kepastian gerak yang ada di alam.
 Teori evolusi Darwin hanya memberatkan pandangan pada satu segi saja, yakni menekankan persamaan dari pada sudut jasmaniah, dan mengabaikan segi perbedaan yang asasi pada sudut rohaniah. Coba kita bandingkan kemampuan antar manusia dan robot. Antara manusia dan robot memang ada segi persamaannya, namun segi perbedaannya jauh lebih asasi. Pembelaan dari kaum finalisma terhadap Darwin tentang berhentinya evolusi otak, karena „tujuan‟ evolusi sudah tercapai (terbentuknya manusia budiwan), justru berlawanan dengan teori evolusi itu sendiri (bahwa makhluk hidup akan terus berubah dari bentuk satu kebentuk lainnya).
Kalau begitu timbul pertanyaan baru siapakah yang menentukan „tujuan dan siapakah yang menyusun keteratutan di alam sangat rapih ini?. Alam yang ber-evolusi tidaklah mungkin menentukan tujuan dan menyusun keteraturannya, karena alam tidak beraqal. Ia hanya takluk pada hukum yang dibebankan kepadanya. Maka akan ditemukan jawaban bahwa yang menentukan tujuan dan menyusun keteraturan adalah sang pencipta alam. Pencipta itu disebut Tuhan. Dengan demikian teori evolusi bukanlah menjauhkan kita dari Tuhan, tetapi sebaliknya. Teori evolusi menuntut manusia berfikir dan menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan.
C.    Kesimpulan
Manusia dalam pandangan Islam diciptakan oleh Allah dari saripati tanah. Yang mana terdapat empat macam proses penciptaan manusia yang berbeda namun berasal dari unsur yang sama , yakni penciptaan Adam, penciptaan Hawa, penciptaan Isa dan penciptaan Bani Adam. Adam diciptakan tanpa melalui ayah dan ibu, ia diciptakan langsung oleh Allah dengan proses yang singkat, dari tanah kemudian dibentuk dan kemudian ditiupkan ruh. Penciptaan Hawa, manusia kedua yang diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk Adam. Penciptaan Isa, diciptakan oleh Allah melalui rahim Ibu namun tanpa ayah biologis. Kemudian penciptaan bani adam yang diciptakan melalui hubungan bilogis antara ayah dan ibu. Perbedaan tersebut semata-mata adalah bukti kekuasaan Allah. Mengenai derajat manusia antar satu dengan lainya tetaplah sama, karena berasal dari unsur yang sama.
Sementara menurut Teori Evolusi Darwin, mengatakan manusia berasal dari hewan. Manusia menurut teori ilmu merupakan hasil evolusi organik, hasil perkembangan organisme dari yang paling bersahaja samapai pada hewan tingkat tinggi (bangsa antropoide) dan akhirnya jenis manusia. Secara jasmaniah antara manusia dan hewan memang memiliki persamaan, namun secara rohaniah tentu terdapat perbedaan. Maka mansia bukanlah berasal dari hewan yang berevolusi.
D.    Daftar Pustaka
Kurniawati, Eka,  Nurhasanah Bakhtiar, Manusia Menurut Konsep Al-Qur’an dan Sains, (Journal of Natural Science and Integration, Vol. 1, No. 1,  2018),
Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh,  Abdullah bin Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2003)
Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an X.pdf



[1] Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an X.pdf, h. 54.
[2] Eka Kurniawati, Nurhasanah Bakhtiar, Manusia Menurut Konsep Al-Qur’an dan Sains, (Journal of Natural Science and Integration, Vol. 1, No. 1,  2018), h. 86.
[3] Ibid., h. 87.
[4] Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5, (Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2003), h. 575
[5] Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an VII.pdf, h. 166.
[6] Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir …, 576.
[7] Ibid.,
[8] Ibid.,
[9] Sayyid Qutb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an VII.pdf, h. 166.
[10] Ibid.,
[11] Abdullah bin Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir …, 576.
[12] Eka Kurniawati, Nurhasanah Bakhtiar, Manusia Menurut Konsep Al-Qur’an dan Sains, (Journal of Natural Science and Integration, Vol. 1, No. 1,  2018), h. 91-93.

No comments:

Post a Comment