PENCIPTAAN MANUSIA DALAM AL-QUR’AN DAN SAINS
Oleh :
Ahmad Minannurohman
A.
Penciptaan Manusia dalam Al-Qur’an
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah yang dianugrahi
akal untuk berfikir. Atas anugrah tersebut, manusia tidak bisa dikatakan
termasuk ke dalam golongan hewan yang pada dasarnya tidak mempunyai akal.
Secara komposisi tentu manusia lebih tinggi derajatnya daripada hewan. Akan
tetapi, derajat manusia akan bernilai sama dengan hewan ketika anugrah tersebut
tidak dipergunakan dengan baik. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-A’raf ayat 179:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا
لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ
بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ
بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ
الْغَافِلُونَ
Artinya:
Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka
Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
(ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat
lagi. mereka Itulah orang orang yang lalai.
Manusia muncul bukan secara serta merta, melainkan
diciptakan oleh Allah melalui beberapa tahapan. Al-Qur’an telah menerangkan
beberapa ayat yang memberikan petunjuk mengenai asal-usul munculnya manusia.
Berikut ini beberapa ayat Al-Qur’an yang menerangkan asal-usul munculnya
manusia :
1.
Penciptaan
Adam
Manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT adalah Adam dengan
berawal dari tanah yang diciptakan dengan sebaik-baiknya. Firman Allah SWT:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي
خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
Artinya : 72:“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman
kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari
tanah". Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan
kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud
kepadanya." (Q.S. Al-Shaad : 71).
Berpijak pada ayat tersebut, maka dapat diketahui bahwa
Allah menciptakan Adam dengan tiga unsur yang saling berkaitan, yakni :
a.
Unsur Tanah
Tanah adalah tempat tumbuh dan berkembangnya manusia,
dan dari unsur bumi pula Allah Swt menciptakan manusia, di bumi manusia hidup,
ke dalam tanah manusia akan kembali bila ajalnya sudah tiba nanti, dan dari
tanah pula manusia akan dibangkitkan untuk mempertanggung jawabkan semua yang
telah ia lakukan selama hidup di dunia.[1]
Tetapi ada sebagian manusia masih ragu terhadap hari kebangkitan tersbut. Allah
Swt berfirman "Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu
ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya
(yang dia sendirilah mengetahuinya), Kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang
berbangkit itu)"
b.
Unsur Pembentukan dan Penyempurnaan
Allah Swt menyempurnakan dan membentuk wujud manusia
Sehingga terlihat sangat sempurna sehingga terlihat indah dan sangat jauh
berbeda dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain yang telah di ciptakan oleh
Allah Swt, serta Allah member rizki untuk kelangsungan hidup manusia di muka
bumi ini. Allah berfiman dalam surat Al-Mu`min ayat 64:"
اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا
وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ
الطَّيِّبَاتِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ
الْعَالَمِينَ
“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat
menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu
serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. yang demikian itu
adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam".
c.
Unsur Peniupan Ruh
Setelah tahapan selesai pembentukan manusia, Allah Swt
meniupkan ruh dalam tubuh manusia agar bisa hidup dan berfungsi sebagai
makhluk-Nya, sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat Al-Sajadah ayat 9:
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ
فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ
قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
"Kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke
dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur".
2.
Penciptaan
Hawa
Manusia kedua setelah Adam yang diciptakan oleh Allah adalah Hawa.
Hawa diciptakan oleh Allah melalui tulang rusuk Adam. Firman Allah SWT:
يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ
لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ
اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا
النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ
إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ
فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ
بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا
تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Artinya : “Dialah yang menciptakan
kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya,
isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah Dia merasa
ringan (Beberapa waktu). kemudian tatkala Dia merasa berat, keduanya
(suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata:
"Sesungguhnya jika Engkau memberi Kami anak yang saleh, tentulah
Kami terraasuk orang-orang yang bersyukur.(Q.S. An-Nisa : 11).
“…dari padanya Allah menciptakan istri‟, menurut
jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam, dengan berdasar
kepada hadits riwayat Bukhari dan Muslim. Akan tetapi, ada pula yang
menafsirkan “dari padanya” adalah dari unsur yang serupa yakni tanah
yang dari padanya Adam diciptakan.[2]
Sebagian para penafsir kontemporer seperti dari
kalangan feminisme
menafsirkan kata “nafsin wahidah” dengan jenis yang sama dengan penciptaan Adam. Jika Adam diciptakan dari tanah, berarti Siti Hawa juga diciptakan dari tanah. Hadits Bukhori Muslim di atas menurut mereka sanadnya tergolong lemah. Muhammad Rasyid Ridha dalam bukunya “al-Manar” menegaskan bahwa mufassir yang mengatakan bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk adam dipengaruhi oleh penjelasan dalam perjanjian lama (bibel). Dalam Kitab Bibel (Genesis 1:26-27; Imamat 2 : 7 dan 5; Yahwis 2: 18-24 terdapat uraian khusus tentang penciptaan Adam dan Eve (Hawa).
menafsirkan kata “nafsin wahidah” dengan jenis yang sama dengan penciptaan Adam. Jika Adam diciptakan dari tanah, berarti Siti Hawa juga diciptakan dari tanah. Hadits Bukhori Muslim di atas menurut mereka sanadnya tergolong lemah. Muhammad Rasyid Ridha dalam bukunya “al-Manar” menegaskan bahwa mufassir yang mengatakan bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk adam dipengaruhi oleh penjelasan dalam perjanjian lama (bibel). Dalam Kitab Bibel (Genesis 1:26-27; Imamat 2 : 7 dan 5; Yahwis 2: 18-24 terdapat uraian khusus tentang penciptaan Adam dan Eve (Hawa).
Terlepas berasal dari apa Hawa diciptakan, yang jelas
tujuan Siti Hawa diciptakan adalah sebagai pasangan dan pendamping Adam. Bukan
berarti Adam manusia pertama lalu lebih mulia dari Hawa. Keduanya mempunyai
kedudukan yang sama mulia di mata Allah SWT. Allah SWT menyebut laki-laki dan
perempuan dalam Al-Qur’an dalam jumlah yang berimbang. Laki-laki sebanyak 83
kali dan perempuan sebanyak 84 kali.[3]
3.
Penciptaan
Isa
Isa adalah manusia yang diciptakan oleh Allah melalui seorang Ibu
dengan proses kehamilan. Namun kehamilan tersebut tanpa melibatkan hubungan
biologis/tanpa ayah. Firman Allah Swt.
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ
عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ
فَيَكُونُ
Artinya : Sesungguhnya misal
(penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman
kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia.
(Q.S. Al Imran : 59)
Ayat tersebut menunjukkan akan kekuasaan Allah dalam
menciptakan Isa tanpa adanya seorang ayah, sama halnya dengan penciptaan Adam
yang tanpa ayah, bahkan justru tanpa ibu. Allah menciptakan Adam dari tanah
dengan berfirman kepadanya “kun fayakun”, maka jadilah ia. Hal tersebut
merupakan bukti kekuasaan Allah yang mampu menciptakan Adam tanpa melalui
laki-laki maupun wanita, menciptakan Hawa melalui laki-laki tanpa wanita, dan
menciptakan Isa melalu wanita tanpa laki-laki. Wallahu a’lam.
4.
Penciptaan
Bani Adam (Manusia Secara Umum)
Proses penciptaan manusia secara umum (melalui proses
kehamilan/hubungan biologis) telah dijelaskan di dalam al-Qur’an pada Surah
Al-Mu’minun ayat 12-14 yang berbunyi:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ
سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ
مَكِينٍ
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً
فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا
الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ
أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Artinya : Artinya : 12. Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan)
dalam tempat yang kukuh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan
segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami
bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Dalam ayat tersebut dapat diketahui bahwa manusia diciptakan tidak
secara sekaligus, melainkan melalui beberapa tahapan, yakni :
a.
Fase
Sulalah min Tin
وَلَقَدْ خَلَقْنَا
الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari
suatu saripati (berasal) dari tanah”
Menurut Ṭanṭawi Jauhari, manusia memakan buah-buahan ,
biji-bijian dan daging dan dari itulah yang menjadi darah dan di antaranya
menjadi air mani yang kemudian melahirkan keturunan manusia Pendapat Thāhir ibn
Asyur yang dikutip oleh M. Quraish Shihab dalam tafsir al-Mishbah mengatakan
bahwa, saripati dari tanah itu adalah apa yang diproduksi oleh alat pencernaan
dari bahan makanan yang kemudian menjadi darah, yang kemudian berproses hingga
akhirnya menjadi sperma ketika terjadi hubungan seks. Inilah yang dimaksud
dengan saripati tanah karena ia berasal dari makanan manusia baik tumbuhan
maupun hewan yang bersumber dari tanah.
b.
Fase
Nutfah
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ
نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan)
dalam tempat yang kukuh (rahim).”
Ibnu Katsir memberikan penafsiran bahwa nutfah (air
mani) yaitu air memancar yang keluar dari tulang punggung laki-laki dan tulang
dada perempuan yang terletak di antara tulang selangka dan tulang di bawah payudara.[4]
Hal ini sebagaimana dengan firman Allah dalam Q.S. al-Ṭariq/ 86: 5-8 :
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ (5) خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ (6)يَخْرُجُ مِنْ
بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (7) إِنَّهُ عَلَىٰ رَجْعِهِ لَقَادِرٌ (8)
Artinya : “Maka hendaklah manusia
memperhatikan dari apakah dia diciptakan ? Dia diciptakan dari air yang
dipancarkan. Yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada
perempuan.
Pada dasarnya nutfahdibagi menjadi 3 macam,
diantaranya:
1.
Nutfah Laki-laki
Dalam surat al-Qiyamah ayat 37-39 telah dijelaskan bahwa ‚manusia
dahulu berasal dari mani yang ditumpahkan (kedalam rahim) kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan.
dahulu berasal dari mani yang ditumpahkan (kedalam rahim) kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan.
أَلَمْ
يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ (37) ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ
فَسَوَّىٰ (38) فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَىٰ (39)
(37).
Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). (38).
Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan
menyempurnakannya, (39). lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang: laki-laki
dan perempuan.
2.
Nutfah Perempuan
Di dalam al-Qur’an nutfah wanita sendiri tidak disebutkan secara
jelas. Namun nutfah tersebut dapat disimpulkan dari nutfah amsaj yang merupakan
campuran antara nutfah laki-laki dan wanita. Akan tetapi nutfah tersebut secara
jelas disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad berikut :
Hai
orang-orang Yahudi, manusia diciptakan dari mani laki-laki dan perempuan, mani
laki-laki kental dan dari situlah terbentuk tulang dan otot, sedangkan mani
perempuan encer dan akan membentuk daging dan darah"15 (HR Ahmad)
Nutfah laki-laki dan perempuan sama-sama dipancarkan. Dan
dari nutfah inilah Allah menciptakan anggota-anggota yang berbeda, perilaku
yang berbeda serta menentukan pria dan perempuan. Dari nutfah pria akan
terbentuk syaraf, tulang dan otot, sedangkan dari nutfah perempuan akan
terbentuk darah dan daging.
3.
Nutfah
Amsaj
Dalam surat al-Insan ayat 2 telah dijelaskan bahwa, ‚sesungguhnya
manusia diciptakan dari setetes mani yang dicampur Nutfah Amsaj)
manusia diciptakan dari setetes mani yang dicampur Nutfah Amsaj)
c.
Fase
‘Alaqah
ثُمَّ
خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah.”
Sayyid Quṭub dalam tafsiranya mengatakan bahwa setelah
sel mani laki-laki bertemu dengan sel telur wanita, kemudian ia menggantung
dalam rahim sebagai titik yang kecil pada awalnya yang mengambil sari makanan
dari darah ibunya. Penjelasan ini sesuai dengan proses penempelan janin pada
selaput lendir selama minggu kedua. Selain itu, kata ‘alaqah juga diacu
pada darah secara umum, darah yang sangat merah dan darah yang beku.[5]
d.
Fase Mudgah
فَخَلَقْنَا
الْعَلَقَةَ مُضْغَةً
“Lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging.”
Ibnu Katsir dalam tafsirnya memberikan penjelasan bahwa
“muḍgah” adalah sepotong daging yang tidak memiliki bentuk dan tidak
bergaris-garis.[6] M. Quraish Shihab
menjelaskan bahwa muḍgah adalah sesuatu yang kadarnya kecil sehingga
dapat dikunyah. Mustafa al-Maragi berpendapat bahwa masa perkembangan darah
beku dalam kehidupan janin mencapai 4 minggu, kemudian berkembang menjadi muḍgah
(sepotong daging) karena serupa benar dengan sepotong daging yang bisa dimamah
dan masa perkembangannya mencapai tiga sampai sepuluh minggu.
e.
Fase ‘Idzam
فَخَلَقْنَا
الْمُضْغَةَ عِظَامًا
“Dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang.”
Ibnu Katsir dalam kitabnya menjelaskan bahwa pada fase ‘iẓam,
segumpal daging itu dibentuk menjadi sosok yang memiliki kepala, kedua belah
tangan, mempunyai dua buah kaki, lengkap dengan tulang-tulangnya, urat-urat
syarafnya dan otot-ototnya.[7]
Penciptaan tulang janin dimulai dari unsur tulang yang
ada dalam model selaput atau tulang rawan yang secara bertahap berubah menjadi
tulang belulang. Pada saat yang sama, proses pembentukan tulang dimulai dari
unsur yang terbatas, kemudian ia naik di dalam lingkaran-lingkaran yang memutar
sehingga fungsi masing-masing menjadi sempurna.
f.
Fase Fakasaunal ‘Idzama Lahman
فَكَسَوْنَا
الْعِظَامَ لَحْمًا
“Lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.”
Ibnu Katsir menjelaskan fase laḥman, ”kemudian
Kami jadikan pada tulang-belulang itu sesuatu yang menutupi, membungkus dan menguatkannya.”[8] Sayid Qutub juga menjelaskan fase ini bahwa
di sini manusia dibuat terpana di hadapan pengungkapan al-Qur’an tentang
hakikat penciptaan janin, yang sebelumnya belum diketahui secara jelas
melainkan setelah tercapai kemajuan ilmu tentang janin lewat sinar X dan
pembedahan.[9]
Telah ditetapkan bahwa sel-sel tulang itu adalah yang
terbentuk pada awalnya dalam janin. Dan, tidak tampak satu pun sel daging
kecuali setelah timbulnya sel-sel tulang dan setelah sempurna kerangka tulang
pada janin. Hakikat inilah yang direkam oleh al-Qu’an “Segumpal daging itu Kami
jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging.
g.
Fase Khalqan Akhar
ثُمَّ
أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ
“Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain.”
Sayyid Qutub menafsirkan bahwa makhluk yang berbentuk
lain itu adalah manusia yang memiliki karakter-karakter yang istimewa. Janin
manusia mirip dengan janin hewan dalam pertumbuhan jasmaninya. Namun, janin
manusia dijadikan makhluk yang berbentuk lain. Kemudian beralih kepada bentuk
penciptaan yang istimewa itu, yang siap untuk tumbuh. Sedangkan, janin hewan
tetap pada tingkat hewan, kosong dari karakter-karakter kesempurnaan dan
pertumbuhan yang dimiliki oleh janin manusia.[10]
M. Quraish Shihab juga berpendapat sejalan dengan
pendapat Sayyid Qutub mengatakan bahwa makhluk lain mengisyaratkan bahwa ada
sesuatu yang dianugerahkan kepada makhluk yang dibicarakan ini yang menjadikan
ia berbeda dengan makhluk-makhluk lain.
Sementara itu mengenai jarak waktu antar fase tersebut
dapat dilihat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abdullah Ibnu
Mas’ud dia bercerita, Rasulullah Saw. memberitahu kami, yang beliau adalah
orang yang selalu jujur dan dibenarkan:
Artinya : Sesungguhnya salah seorang di antara kalian
dikumpulkan penciptaanya di dalam perut (Rahim) ibunya selama 40 hari berupa nuthfah
(air mani), kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari), lalu
menjadi gumpalan sekerat daging, selama itu juga, kemudian diutuslah kepadanya
Malaikat, maka ia (Malaikat) meniupkan ruh padanya dan Malaikat itu
diperintahkan untuk (menulis) empat perkara; rizkunya, ajalnya, amal
perbuatanya, dan (apakah dia) sengsara atau bahagia. Demi Allah tiada yang Ilah
(yang haq) selain Dia, sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan
mengerjakan amalan penghuni surga sehingga (jarak) antara dirinya dengan surga
hanya satu hasta saja, namun dia didahului oleh ketetapan (takdir) Allah
sehingga dia mengerjakan perbuatan penghuni neraka, hingga akhirnya dia masuk neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara
kalian akan mengerjakan perbuatan penghuni neraka sehingga jarak antara dirinya
dengan neraka tinggal satu hasta saja, namun ketetapan (takdir) Allah
mendahuluinya sehingga dia mengerjakan amal perbuatan surga, hingga akhirnya
dia masuk surga. (H.R. Bukhari Muslim).[11]
B.
Proses Penciptaan Manusia dalam Sains (Teori Evolusi Darwin)
Secara aqal manusia atau secara sains (pengetahuam
manusia) setidaklanya ada dua kaum atau kelompok yang menjawab pertanyaan-pertanyaan
ini, yaitu kaum evolusi dan kelompok Teori finalisma. Berikut ini penciptaan
manusia menrut kedua teori tersebut [12]:
1.
Kelompok Teori Evolusi
Sidi Gazalba di dalam bukunya Ilmu, Filsafat dan Islam Tentang
Manusia dan Agama, menyebutkan bahwa pertanyaan-pertanyaan di atas secara aqal
manusia dijawab oleh teori desedensi (keturunan) atau teori evolusi
(Sidi Gazalba, 1978). Teori evolsi memiliki anggapan bahwa jenis-jenis hewan
dan tumbuhan yang ada sekarang tidak lahir menurut ujudnya seperti sekarang
ini. Berdasarksn teori evolusi semua manusia berasal dari bangsa yang lebih
rendah, yakni hewan. Yang pertama kali mengeluarkan teori ini adalah Lamarck
(1744-1829), seorang ahli ilmu hayat yang sangat terkenal dari Perancis.
Lamarck mengemukakan teori evolusi ini baru bersifat pemikiran (spekulatif).
Toeri evolusi Lamarck oleh Darwin (1809-1882) seorang ahli ilmu
hayat dari Inggris, dijadikannya Ilmiah dengan memberikan dasar data-data.
Darwin beranggapan bahwa tiap jenis makhluk tumbuhan dan hewan berasal dari
jenis yang paling rendah. Jenis yang paling rendah yakni yang awal sekali ialah
amuba atau mahkluk satu sel. Jenis yang paling tinggi atau akhir sekali adalah
manusia. Dalam sejarah dunia tumbuhan dan hewan, kirakira dua milyard tahun sampai
sekarang. Semenjak akhluk satu sel yang timbul di laut sampai sekarang,
berlangsung evolusi atau perubahandari satu jenis melalui jenis antara
kepada jenis lain.
Kalau manusia terjadi dari hasil evolusi hayat, tentu ia berasal
dari jenis yang lebih rendah. Dan anggapan teori evolusi Manusia berasal dari
makhluk yang lebih rendah yaitu hewan. Manusia menurut teori ilmu merupakan
hasil evolusi organik, hasil perkembangan organisme dari yang paling bersahaja
samapai pada hewan tingkat tinggi (bangsa antropoide) dan akhirnya jenis
manusia. Jenis-jenis yang lahir dalam proses evolusi dari bangsa hewan menjadi
manusia, antara lain:
1.
Makhluk yang paling tua yang bertuknya mirip atau lebih hampir
sama dengan manusia, diistilahka Australopithecus, Kera Australia,
fosilnya (Sidi Gazalba, 1978) diperkirakan berumur 500-600 tahun.
2.
Pithecanthropus Erectus, Manusia-Kera berdiri tegak, yang fosilnya berumur sekitar 400
ribu tahun.
3.
Homo Neabderthalensis, Manusia Neanderthal, yang fosilnya berumur kira-kira 100 ribu
tahun.
Fosil ialah bekas atau peninggalan jasad manusia dan
hewan secara utuh atau bagianbagiannya yang terbentuk oleh proses kimia dalam
lapisan kulit bumi. Berdasarkan cacatan fosil yang muncul kira-kira 35.000
tahun yang lalu, Manusia tergolong Homo sapiens atau Manusia budiawan(
Supan Kusumamiharja, 1976).
2.
Kelompok Finalisma
Kelompok Finalisma membela teori yang dikeluarkan oleh kaum
evolusi. Menurut kelompok Finalisma kalaulah dalam dua milyar tahun terakhir
sejarah bumi, berlangsung evolusi dunia hewan, dengan teratur, yang 350 abad
yang lewat berujung pada jenis manusia budiawan, tentu wajar kalau kita menduga
bahwa di masa yang akan datang akan lahir jenis baru yang berbeda sekali dari jenis
manusia yang sekarang.
Kelompok Finalisma mendasarkan pendapat mereka pada terhentinya
pertambahan volume otak pada manusia kini. Pertambahan volume dan penyempurnaan
otak ada hubungannya dengan perkembangan kecerdasan. Australopithecus memiliki
volume otak 450 cm3. Dalam evolusi 400-500 ribu tahun terjadi pertambahan 1000
cm3, sehingga Homo Neabderthalensis mencapai volume otak 1,450
cm3. Dan anehnya volume itu bertahan tetap, tidak bertambah lagi sampai dengan
manusia modern sekarang ini. Hal ini tentunya berlawanan dengan hukum teori
evolusi. Dengan terhentinya evolusi organ tubuh manusia yang amat penting dalam
diri manusia, maka terhentilah pula evolusi pada jenis manusia. Tujuan evolusi
menurut kaum finalisma, ialah untuk mewujudkan manusia, atau pada manusialah
finalnya (berakhirnya) proses evolusi.
Sejalan dengan perkembangn ilmu pengetahuan teori evolusi makin
lama makin nyata kelemahannya. Kelemahan yang banyak diperdebatkan ialah
tentang “missing link”, yakni putusnya hubungan atau tidak ditemukannya jenis
antara dari bangsa hewan kepada jenis manusia. Pokok-pokok teori Darwin telah
dibatalkan oleh penemuan-penemuan ilmiah sesudah dia. Yang bertahan dari teosi
ini adlah hanya garis besarnya saja.
Teori evolusi berpijak atas data-data fosil yang ditemukan dalam
lapisan tanah bumi. Bila teori evolusi itu benar maka lapisan-lapisan baru
harus menyimpan catatan-catatan yang lengkap tentang perkembangan hidup
sepanjang waktu geologis. Dan catatan tersebut harus mengndung data bertahap
yang kontinue tentang evolusi hidup, misalnya dari amuba sampai manusia.
Ternyata apa yang diharapkan itu tidak terbukti malah sebaliknya yang
ditemukan.
Kenyataan itulah yang membingungkan Darwin sendiri, seperti
katanya:“.... secara keseluruhannya data geologis itu terlalu tidak
lengkap. Sedangkan bila kita pusatkan perhatian kita hanya kepada satu
lapisan saja, maka lebih menyulitkan lagi: misalnya mengapa kita tidak menemukan
di dalamnya perbedaan-perbedaan bertahap antara species yang dekat yang hidup
dalam lapisan tersebut”. (The Origin of Species 1872, Bab X)
Dalam tullisannya di atas Darwin sebenarnya masih ragu-ragu
terhadap teori evolusi yang telah ia buat. Keragu-raguannya itu sangatlah wajar
jika kita bandingkan dengan keteraturan yang ada di alam semesta. Gerak dan
peristiwa di alam sangatlah tertur. Perkembangan ilmu berhasil menemukan hukum
alam. Hukum alam adalah hubungan sebab-akibat, peristiwa alam yang serba tetap
dan pasti, misalnya tiap-tiap air yang didinginkan 0 derajat pasti akan
mengembang dan membeku. Ilmu-ilmu eksakta dan teknologi mengalami kemajuan yang
luar biasa dewasa ini akibat dari adanya keteraturan dan kepastian gerak yang
ada di alam.
Teori evolusi Darwin hanya
memberatkan pandangan pada satu segi saja, yakni menekankan persamaan dari pada
sudut jasmaniah, dan mengabaikan segi perbedaan yang asasi pada sudut rohaniah.
Coba kita bandingkan kemampuan antar manusia dan robot. Antara manusia dan
robot memang ada segi persamaannya, namun segi perbedaannya jauh lebih asasi.
Pembelaan dari kaum finalisma terhadap Darwin tentang berhentinya evolusi otak,
karena „tujuan‟ evolusi sudah tercapai (terbentuknya manusia budiwan), justru
berlawanan dengan teori evolusi itu sendiri (bahwa makhluk hidup akan terus
berubah dari bentuk satu kebentuk lainnya).
Kalau begitu timbul pertanyaan baru siapakah yang menentukan
„tujuan dan siapakah yang menyusun keteratutan di alam sangat rapih ini?. Alam
yang ber-evolusi tidaklah mungkin menentukan tujuan dan menyusun
keteraturannya, karena alam tidak beraqal. Ia hanya takluk pada hukum yang
dibebankan kepadanya. Maka akan ditemukan jawaban bahwa yang menentukan tujuan
dan menyusun keteraturan adalah sang pencipta alam. Pencipta itu disebut Tuhan.
Dengan demikian teori evolusi bukanlah menjauhkan kita dari Tuhan, tetapi
sebaliknya. Teori evolusi menuntut manusia berfikir dan menguatkan
kepercayaannya kepada Tuhan.
C.
Kesimpulan
Manusia dalam pandangan Islam diciptakan oleh Allah
dari saripati tanah. Yang mana terdapat empat macam proses penciptaan manusia
yang berbeda namun berasal dari unsur yang sama , yakni penciptaan Adam,
penciptaan Hawa, penciptaan Isa dan penciptaan Bani Adam. Adam diciptakan tanpa
melalui ayah dan ibu, ia diciptakan langsung oleh Allah dengan proses yang
singkat, dari tanah kemudian dibentuk dan kemudian ditiupkan ruh. Penciptaan
Hawa, manusia kedua yang diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk Adam.
Penciptaan Isa, diciptakan oleh Allah melalui rahim Ibu namun tanpa ayah
biologis. Kemudian penciptaan bani adam yang diciptakan melalui hubungan bilogis
antara ayah dan ibu. Perbedaan tersebut semata-mata adalah bukti kekuasaan
Allah. Mengenai derajat manusia antar satu dengan lainya tetaplah sama, karena
berasal dari unsur yang sama.
Sementara menurut Teori Evolusi Darwin, mengatakan
manusia berasal dari hewan. Manusia menurut teori ilmu merupakan hasil evolusi
organik, hasil perkembangan organisme dari yang paling bersahaja samapai pada
hewan tingkat tinggi (bangsa antropoide) dan akhirnya jenis manusia.
Secara jasmaniah antara manusia dan hewan memang memiliki persamaan, namun
secara rohaniah tentu terdapat perbedaan. Maka mansia bukanlah berasal dari
hewan yang berevolusi.
D.
Daftar Pustaka
Kurniawati, Eka, Nurhasanah
Bakhtiar, Manusia Menurut Konsep Al-Qur’an dan Sains, (Journal of
Natural Science and Integration, Vol. 1, No. 1,
2018),
Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh, Abdullah bin Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5,
(Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2003)
Sayyid
Qutb, Tafsir fi Zhilalil Qur’an X.pdf
[1] Sayyid Qutb, Tafsir
fi Zhilalil Qur’an X.pdf, h. 54.
[2] Eka
Kurniawati, Nurhasanah Bakhtiar, Manusia Menurut Konsep Al-Qur’an dan Sains,
(Journal of Natural Science and Integration, Vol. 1, No. 1, 2018), h. 86.
[3] Ibid.,
h. 87.
[4] Abdullah bin
Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir Jilid 5,
(Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2003), h. 575
[5] Sayyid Qutb, Tafsir
fi Zhilalil Qur’an VII.pdf, h. 166.
[6] Abdullah bin Muhammad
bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir …, 576.
[7] Ibid.,
[8] Ibid.,
[9] Sayyid Qutb, Tafsir
fi Zhilalil Qur’an VII.pdf, h. 166.
[10] Ibid.,
[11] Abdullah bin
Muhammad bin Abdurahman bin Ishaq Al-Sheikh, Tafsir Ibnu Katsir …, 576.
[12]
Eka Kurniawati,
Nurhasanah Bakhtiar, Manusia Menurut Konsep Al-Qur’an dan Sains,
(Journal of Natural Science and Integration, Vol. 1, No. 1, 2018), h. 91-93.
No comments:
Post a Comment